Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Inilah sebuah ‘refleksi sunyi’ umat manusia pada peristiwa duka, Jumat Agung, kisah kesengsaraan Yesus Kristus.
Lewat tragedi penyaliban Yesus, umat manusia diajak untuk turut merenungkan misteri “kekokohan, kesetiaan, serta ketabahan” Ibu Maria, yang digelari “Mater Dolorosa.”
Bunda Maria adalah Ibu keagungan serta saksi hidup dari seluruh lembaran ziarah Sang Puteranya, Yesus Kristus.
Kronologi ziarah hidup Ibu Maria, yang bermula dari peristiwa menerima kabar gembira dari sang malaekat Gabriel hingga ia mengandung, dan melahirkan Yesus.
Lalu, bersama sang suami Yosef, mereka melarikan diri ke tanah Mesir. Lalu kembali dan hidup di desa Nazareth hingga proses penangkapan, penyiksaan, penyaliban, serta wafat Sang Putera.
Bunda Maria, ternyata tetap berdiri kokoh serta setia hingga di kaki salib.
Adapun himne “Stabat Mater Dolorosa,” yang diciptakan pada abad XIII oleh seorang biarawan Fransiskan, Jacopone da Todi atau Paus Innosensius III (1230-1306).
Sinopsis syair himne, mendeskripsikan betapa agung ketabahan bunda Maria, yang setia ‘berdiri’ di kaki salib (stabat mater).
Stabat Mater Dolorosa
juxta crucem lacrinosa,
dum pendebat filius
(Bunda yang bersedih
berdiri sambil menangis,
saat putera tergantung).
Di sini, di dalam konteks serta makna ini, kepada seluruh umat manusia, disuguhkan keluhuran serta keagungan karakter seorang ibu sejati.
Dalam dan lewat refleksi ini, kita fokuskan pikiran serta hati kita kepada kekokohan, ketulusan, serta kesetiaan Bunda Maria dalam mengikuti ziarah penderitaan Puteranya.
Menjelang wafat-Nya, dari atas salib, Yesus masih membutuhkan kesetiaan sang Bunda.
“Ibu, โฆ inilah anakmu!”
Yesus menyerahkan kita, yang diwakilkan oleh rasul terkasih, Yohanes.
Semoga, para Ibu kita pun, mau belajar dari kekokohan, ketabahan, dan kesetiaan ibu Maria dalam menyertai serta mendampingi putra-putri mereka.
…
Kediri, Jumat Agung,ย
6ย Aprilย 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

