Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sapientia est Vita”
“Kebijaksanaan adalah esensi dari kehidupan”
(Adagium Latin)
Siapakah Confucius itu?
Dalam peradaban dunia ini, kita telah mengenal dan bahkan mengagumi kearifan hidup dari filsuf brilian Confucius.
Confucius (Kong Fuzi) adalah seorang filsuf dan politikus brilian dari Tiongkok kuno. Ia hidup sekitar abad ke-6 SM. Ia yang bernama asli Kong Qiu lahir tahun 551 SM dan wafat tahun 479 SM.
Ajaran-ajaran utama dalam hidupnya adalah: Etika, moralitas, politik, pendidikan, dan kehidupan sosial.
Ia sangat dikenal lewat ajarannya tentang: kebijaksanaan, kesopanan, dan sistem pemerintahan yang bijaksana.
Terdapat Enam (6) ‘Bila’ dalam Pengajarannya
Confucius berpendapat, bahwa sejumlah kearifan hidup yang mutlak itu perlu untuk direnungkan di sepanjang ziarah hidup kita di dunia ini. Ke-enam ‘bila’ sebagai mutiara hidup itu ialah:
- Bila engkau melihat: Lihatlah dengan jelas! Anda jangan terkecoh oleh sesuatu yang sekadar ilusi. Sesuatu yang menakutkan, belum tentu itu buruk. Bila itu kebaikan, belum tentu itu sungguh baik. Maka, berhati-hatilah, bila Anda melihat!
- Bila engkau mendengar: Mendengarlah dengan jelas! Jangan mudah terkecoh oleh berita hoaks yang berseliweran di sekelilingmu. Maka, berwaspadalah!
- Bila engkau berbicara: Bicaralah dengan jujur dan tulus! Setia dalam hal kecil, maka engkau akan dipercayai di sepanjang hayatmu. Maka, berbicaralah dengan jujur dan tulus!
- Bila engkau bekerja: Bekerjalah dengan baik dan benar! Persembahkan sesuatu yang terbaik sebagai hasil dari kerjamu. Maka, kelak engkau akan dipercayai!
- Bila engkau bertanya: Bertanyalah demi tujuan mulia, bukan demi ketenaranmu. Maka, belajarlah pada orang benar dan bertanyalah kepada mereka!
- Bila engkau marah: Ingatlah akan dampaknya! Emosimu dapat melenyapkan daya kontrolmu, dan semoga iblis jangan menggiringmu. Maka, marahlah dengan jujur, tepat sasaran, dan efektif!
(Inspirasi Lima Menit)
Ke-enam aktivitas indra yang sangat manusiawi itu, justru bermula dan bersumber dari sumur kedalaman kepribadianmu, bukan? Maka, setiap kali Anda bersikap lewat aktivitas “melihat, mendengar, berbicara, bekerja, bertanya, dan marah,” maka yang terekpresi ialah sisi kepribadian dan jati dirimu. Jadi, orang-orang akan mengenalmu, justru lewat aktivitas bagaimana cara Anda melihat, mendenga, berbicara, bekerja, bertanya, dan bahkan di saat marah.
Refleksi
Manusia adalah si bejana tanah liat yang hidup, bergerak, berada, dan bermakna. Ia akan kian bermakna, justru tatkala ia mampu mengekspresikan jati dirinya dengan baik dan benar.
“Kebijaksanaan adalah kemampuan menggunakan pengetahuan untuk mengatasi keadaan darurat dengan sukses. Manusia dapat memperoleh pengetahuan, tapi kebijaksanaan berasal dari Tuhan.”
(Bob Jones)
Kediri, 18 Februari 2026

