Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ex Pluribus Unum” (Cicero)
…
| Red-Joss.com | Tulisan bernada “persatuan dan kesatuan” ini, terinspirasi oleh tulisan saudara Dominikus Waruwu, Bandung Wetan, Bandung. Pada kolom pembaca, surat kepada Redaksi. Kompas, Rabu, 1/11/2023, berjudul, “Spirit Bhinneka Tunggal Ika.”
Hal : Presiden Joko Widodo mengundang tiga bakal capres makan siang bersama di Istana Merdeka.
Sifat kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang merangkul semua pihak mengingatkan kita pada spirit Bhinneka Tunggal Ika sebagaimana diulas dengan sangat baik oleh Agus Sudibyo. Kompas (31/10/2023), demikian Dominikus Waruwu.
Cicero, sang penyair serta orator agung Romawi bertutur,
โEx Pluribus Unumโ, โBerbeda-beda, tetapi satuโ, mau menekankan pentingnya akan realitas perbedaan yang ada di dalam sebuah masyarakat. Diakuinya juga, bahwa sekalipun berbeda, namun toh ada kesatuan dan kesamaan di antara perbedaan itu. Katanya, bahwa ikatan persatuan di dalam perbedaan, justru menjadi kekuatan untuk masyarakat atau negara.
Di dalam konteks Indonesia, semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya walaupun berbeda suku, etnis, dan agama, tetapi kita adalah satu. Satu sebagai sebuah negara, satu sebagai sebuah bangsa, dan satu dalam berbahasa, bahasa Indonesia.
Dengan demikian, dalam konteks kesatuan dan persatuan ini, maka doa Yesus bagi para muridnya, sungguh tetap dan akan selalu aktual.
Bagi kita, sesuai ajaran kasih oleh Sang Guru Agung kita, Yesus Kristus, sesungguhnya prinsip persatuan dan kesatuan di dalam perbedaan ini, sudah menjadi pondasi kokoh untuk bersatu bersama sesama yang berbeda dengan kita.
“Supaya mereka semua menjadi satu, seperti Bapa bersatu dengan Aku, dan Aku dengan Bapa. Semoga mereka menjadi satu dengan kita, supaya dunia percaya, bahwa Bapa yang mengutus Aku.”
(Yohanes 17: 21).
…
Kediri, 1 November 2023

