Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sapere Aude”
“Beranilah untuk Berpikir Sendiri”
(Horatius)
Manusia itu Makhluk yang mampu Berpikir
Secara antropologis Tuhan telah menciptakan tiga macam makhluk hidup, yakni manusia, tumbuhan, dan hewan. Dari ketiganya itu, hanya makhluk manusialah yang dikaruniai dengan akal serta budi dan pikiran.
Adapun tujuan dan fokus sentral dari tulisan ini adalah menyoroti dan mencermati, bagaimana spirit belajar yang sangat unik ala Socrates.
Karena bukankah sang filsuf unik ini, justru telah menggemparkan dunia lewat sepak terjangnya, dalam konteks, bahwa ia selalu ingin belajar dan terus mau belajar.
Sampai Titik Darah Penghabisan
Sekalipun Socrates tengah mendekam di penjara dan menunggu saat eksekusi, ia masih menyibukkan diri untuk belajar dan menambah ilmu pengetahuan.
Suatu hari, ketika ia mendengar seorang tawanan mengucapkan syair (puisi) yang menyentuh hatinya, ia memohon agar diajari syair itu kepadanya.
“Tapi, untuk apa, bukankah Tuan sebentar lagi akan dieksekusi?” tanya tawanan itu keheranan.
“Tapi ya, setidaknya saya masih sempat belajar dan mengetahui satu hal baru lagi sebelum saya meninggal,” jawab Socrates.
(Berguru pada Saru)
Metode Belajar Unik ala Socrates
Dunia mengenal, bahwa sang filsuf unik ini memiliki metode belajar dengan cara terus “Bertanya dan berdiskusi.”
Ia sangat haus untuk sungguh mengetahui dengan baik dan benar hakikat dari segala sesuatu. Untuk mencapai tujuan kritisnya itu, ia tidak pernah puas akan jawaban yang telah ada. Maka, ia selalu dan terus ingin menggali, apa sebetulnya yang ada di balik realitas itu.
Ringkasan Spirit Belajar Unik ala Socrates
Inilah “kelima spirit belajar” yang jadi kekhasan Socrates!
- Socrates selalu mengaku tidak tahu: bahwa sesungguhnya, dirinya tidak tahu apa-apa tentang sesuatu itu. Sehingga kecenderungannya adalah untuk selalu mau belajar dari orang lain.
- Socrates selalu bertanya: ciri unik pertanyaannya ialah mengajak orang untuk ikut berpikir kritis.
- Socrates selalu mau mendengarkan: ia aktif mendengarkan dan menghargai setiap jawaban orang lain dan menganalisisnya.
- Socretes selalu menguji asumsi-asumsi dari orang-orang lain dan mempertanyakan soal kebenarannya.
- Socrates selalu mencari kebenaran: hal itu selalu jadi fokus dan tujuan hidupnya.
Bagaimanakah Kondisi Spirit Belajar Kita?
Setelah kita mencermati keunikan cara belajar ala Socrates, maka bagaimanakah dengan keunikan cara belajar kita?
Sejujurnya dalam konteks ini, kita perlu berani dan dengan sportif mengakui, bahwa cara belajar kita memang jauh berbeda dari cara belajar ala Socates.
Fakta hidup kita pun membuktikan, bahwa proses belajar kita ternyata, jauh berbeda. Seperti pepatah, bahwa “Lain padang, lain belakang, lain lubuk lain pula ikannya.”
Untuk itu, jika kita sungguh-sungguh ingin bertumbuh dan berkembang sebagai sebuah bangsa besar yang beradab dan berbudaya, maka kita perlu belajar dari spirit belajar khas Socrates.
Bukankah sikap kritis dan berpikir luas serta mendalam itu, justru hanya bertumbuh dari kehausan untuk mengetahui hakikat dari segala sesuatu dengan benar? Untuk mencapai tujuan itu, kita harus dengan cara terus bertanya dan berdiskusi hingga menemukan radiks dari inti dari sebuah persoalan.
Refleksi
Hanya bangsa yang sanggup berpikir kritis, luas, dan mendalam yang akan ke luar dari sifat kemunafikan, kedangkalan, meniru, dan cepat puas.
“Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat!”
(Nabi Muhamad)
“Vivere Tota Vita Discendum est”
“Dalam Kehidupan pelu Belajar Seumur Hidup”
(Seneca)
Kediri, 6 Februari 2026

