Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Guru hebat adalah sahabat terbaik dan orangtua sejati.”
(Amanat Kehidupan Sejati)
Kita telah mengenal dan menekuni aneka profesi hidup di bumi ini.
Ada di antara kita yang berprofesi sebagai perawat, dokter, tentara, polisi, guru, atau petani.
Ada pun dalam keyakinan kita: (sosial, budaya, serta agama), memandang semua profesi hidup itu sebagai sebuah panggilan kenabian.
Sejatinya, panggilan itu adalah sebuah kharisma istimewa dari tangan Sang Tuhan sesuai visi agung-Nya untuk setiap pribadi.
Sebuah profesi yang sangat akrab di dalam hidup kita, ialah panggilan menjadi seorang Guru.
Tulisan reflektif ini, saya persembahkan kepada para sahabat, karena merasa terdorong oleh sebuah informasi menarik di dalam media facebook.
Sebagai pensiunan Guru, saya sungguh tertarik untuk menuliskan kembali gagasan yang tercecer ini agar tidak hilang ditelan sang waktu.
‘Guru favorit’ menurut para siswa, demikian inti gagasan itu:
(1) Sang Guru yang kehadirannya, sungguh selalu dirindukan oleh siswa.
Guru model ini, bagaikan sekeping magnet hidup. Kehadirannya selalu l dirindukan, karena beliau itu mempunyai sejumlah kiat brilian. Bukankah di zaman ini, para siswa pun akan berpesta pora, di saat sang Guru tidak mengajar?
(2) Sang Guru yang mampu membangkitkan imajinasi dan kreasi di dalam diri siswa.
Dia, figur Guru yang mampu menginspirasi dan memotivasi siswa lewat tuturannya.
(3) Sang Guru dengan sikapnya agungnya yang dapat diteladani oleh siswa.
Guru yang lewat perilakunya itu mampu menjadi panutan dan digugu serta ditiru oleh siswa.
(4) Sang Guru dengan tuturannya yang menyejukkan hati siswa.
Dia, sang Guru yang memandang murid bukan sebagai bawahan.
Dan dari ujung lidahnya, akan mengalir ucapan penuh kedamaian, tanpa penilaian. Tuturan pengampunan, tanpa mengadili. Seruannya yang tidak mau menjatuhkan murid, tapi yang meneguhkan hati.
Itulah sejumlah perisai adiluhung kedigdayaan figur Guru hebat yang dan sanggup memanusiawikan siswa.
Semoga di dalam hidup ini, banyak Guru yang sanggup menitipkan cinta sejati di dalam sanubari siswa. Sehingga bara api sejati itu terus mengobarkan semangat mereka untuk menyongsong masa depan yang cerah.
Kediri, 23 Februari 2024

