Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Bagimu apa yang paling
mendasar dalam hidup?”
“Ya, ketika semua insan ciptaan Tuhan dapat hidup berdampingan dan saling mengasihi.”
(Didaktika Hidup Sejati)
Sebuah Dunia Edan
Ketika sebuah realitas hidup ini menunjukkan, bahwa kehidupan manusia di atas bumi ini, kini justru kian menggila, munafik, licik, picik, fanatik, dan merasa diri serta kelompoknya sebagai pemegang gagang pintu Kerajaan Surga. Tapi tidaklah demikian dengan sosok pribadi seagung berikut ini.
Identitas Sejati si Dia
Siapakah sesungguhnya dia? Di manakah dia berada? Apakah profesi dalam hidupnya?
Baginya deretan pertanyaan serupa ini, bukanlah yang segala-galanya. Ia hanya ingin mengatakan, bahwa hal itu tidaklah penting, tapi diurungkan niatnya untuk gegabah menjawab. Maka, sikap ‘diam seribu bahasa’ baginya adalah sebuah sahutan yang paling bermartabat.
Mengapa demikian? Baginya, ketika dunia ini kian dibanjiri kabar dan berita bohong, maka baginya, apalah artinya, jika dia masih mau berkata-kata dalam kancah duniawi yang kian dibanjiri arus hidup yang serba munafik ini?
Sebuah Dunia Khaostis
Bukankah dunia kita, kini sudah menampilkan diri, laksana seekor harimau lapar? Artinya sebuah dunia yang diwarnai dan dinodai oleh sikap-sikap, rakus dan serba palsu? Sebuah dunia yang tertatih terlunta, yang orang-orangnya hanya doyan untuk menjejali isi kepalanya dengan kalkulasi dan rumusan untung dan rugi, benar dan salah, kau dan aku, serta aku dan kau belaka. Ya, sebuah dunia yang diliputi oleh gelap gulita. Sebuah dunia khaostis.
Kita Membutuhkan Sosok Berspiritualitas
Di sebuah gubug reot di tengah hutan belantara, hiduplah seorang pria sederhana, berwajah lembut, yang selalu setia untuk menerima dan mendengarkan siapa saja yang bertandang kepadanya.
Di suatu petang menerawang, datanglah seorang pria muda yang selalu merasa dikejar-kejar oleh rasa duka dan dihantui rasa bersalah. Hatinya terluka, sangat kecewa, dan berputus asa menyaksikan aneka dagelan hidup yang dilakonkan di atas pentas kehidupan ini.
“Apa yang sedang kau cari, anak muda. Apa yang telah melukai hidupmu? Mengapa wajahmu tampak sendu dan muram?” tanya pria kalem itu.
“Ya, Tuan, aku seorang pelarian. Karena aku telah melarikan diri dari seluruh realitas hidupku. Aku merasa muak akan seluruh realitas hidup ini.”
“Ya, aku sama seperti dirimu, aku juga seorang pelarian yang telah mencoba untuk menerima diriku dengan seabrek kecemasan dan kerinduanku. Kita berdua sama-sama sebagai orang-orang yang berlari dari kepahitan hidup ini, bukan?”
“Tapi, sesungguhnya kita tidak sendirian. Karena masih banyak orang yang kini sedang kebingungan, tapi mereka tidak tahu harus berbuat apa.”
“Hal ini terjadi, karena sikap mereka yang selalu berpura-pura dan suam-suam, tidak panas dan juga tidak dingin.”
“Tapi, kita telah berani untuk memilih sebuah jalan tengah yang kelak akan mampu menyeberangkan kita ke seberang. Itulah sebuah jalan kenyataan yang sesungguhnya. Kini, kita telah ke luar dari kemelut batin yang kian menyiksa hidup kita.”
“Maka, beranilah hidup dan bersikap di dalam realitas ini. Berhentilah di tempat dan mengasolah sejenak!”
“Hai anak muda, engkau sungguh membutuhkan sebuah penerimaan diri secara ikhlas, dengan tanpa memilah dan memilih; maka kini, engkau telah ke luar dari kegelisahan panjang itu.”
Penutup
Maka kini hiduplah saya di dalam sebuah realitas yang apa adanya.
Tak ada penilaian, tak ada cercaan, tak ada dominasi, tak ada kekerasan, dan juga tak ada lagi prinsip hidup: antara mayoritas dan minoritas.
Itulah dahsyatnya, sosok pribadi yang sungguh berspiritualitas!
Ia bukanlah siapa-siapa, tapi, segala-galanya!
Kediri, 31 Juli 2025

