“Sometimes it is just better to remain silent and smile.”
Rio, scj.
…
| Red-Joss.com | Jebakan yang paling halus namun mematikan saat ini adalah ‘sibuk’. Sebagian dari kita senang, bila mendapat predikat orang sibuk. Sampai-sampai kita tidak mampu membedakan antara aktivitas dan efektivitas. Tidak sekadar sibuk kerja, tapi bangga juga kalau sibuk komentar dan bicara. Semua itu bikin gaduh, bising, dan kepala pusing.
Dunia mengajari kita untuk berhenti sejenak. ‘Stop and go’. Hidup tidak hanya melulu bergerak. Ada saatnya berhenti sejenak, diam sejenak. ‘Trafic ligth’ mengajari kita kapan hidup itu harus berjalan, berhati-hati dan pelan-pelan, lalu kapan harus berhenti. “Be silent and remember everything in life has a purpose.”
Pertama, ‘keep silent’, saat kita tidak tahu mau bilang apa, bingung tentang apa yang akan kita katakan dan pikirkan. Dalam diam itulah kita akan menemukan kata dan bahasa yang tepat untuk berbicara.
Kedua, ‘keeping quiet’. Ketika orang lain marah-marah, melontarkan kata buruk terhadap kita, diamlah. Ingatlah saat mereka melakukan itu, ibarat membuang ludah ke atas. Kalau kita tidak menanggapi, maka ludah itu akan mengenai muka sendiri. Kalau kita hendak marah, lebih baik diam dan tariklah nafas beberapa saat untuk menenangkan diri.
Ketiga, ‘listen quitely and to be silent’. Saat orang lain mengungkapkan hidup, perjuangan, isi hatinya, dan emosinya, dengarkan dan diam. Tidak perlu mengajari, tapi dengarkan dan doakan.
Ada saatnya kita bicara, ada saatnya kita mendengarkan. Ada saatnya kita berhenti, hati-hati, dan terus berjalan. Itulah hidup, jangan hanya sibuk, bising, tapi milikilah waktu untuk diri sendiri, orang lain dan teristimewa untuk Tuhan.
Selalu menganut ilmu pagi, makin rendah hati kian bersisi.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

