| Red-Joss.com | Ketika Gus Dur (alm) dicibir, disoraki dan direndahkan oleh wajah-wajah cengengesan, hati ini ikut pedih, geram dan marah. Perlakuan itu beliau peroleh karena membela Gereja. Toleransi beliau yang sangat tinggi, mendorong Gus Dur hadir, walau sudah diduga tidak memberi manfaat untuk beliau sendiri, malah yang sebaliknya. Gusdur adalah Simon dari Kirene saat itu. Untuk beliau perlakuan itu tidak berdampak, namun tidak dengan putrinya, Yenny Wahid. Tak sanggup melihat ayahnya diperlakukan seperti itu oleh saudara/i seiman. Isaknya tak dapat ditahan dan jelas terdengar olehku yang ada di dekatnya.
Bersama Petrus Das, GM di perusahaan kami, liputan kami buat, untuk dijadikan film dokumenter tentang Gereja yang tak pernah menyerah dan tertawan oleh arogansi apa pun.
Sesungguhnya amat banyak saudara-saudari Muslim yang mendukung kita, seperti Gus Dur (alm). Mereka rela juga dicibir, disindir, diremehkan demi hak-hak konstitusional kita sebagai warga bangsa. Bahkan ada yang dipingkirkan oleh rekan-rekannya dari pergaulan, karena sikapnya itu.
Jika mereka yang bukan seiman dengan kita rela dicerca, bagaimana dengan kita? Maukah jadi Simon dari Kirene, memanggul salib kecil kita, dengan relakan diri sedikit tergores nama baik, harga diri, martabat serta gengsi kita demi utuhnya paguyuban? Atau sebaliknya, kita bergegas ke sana kemari mencari aneka pembersih noda yang sebenarnya noda itu tidak ada? Mengapa?
Bukankah menjadi pengikut Yesus berarti rela mengikuti jalan Salib-Nya?
Sebab untuk itulah kita dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kita dan telah meninggalkan teladan bagi kita, supaya kita mengikuti jejak-Nya (1 Petrus 2:
21).
Salam Sehat dan tabah di jalan-Nya.
…
Jlitheng
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

