Red-Joss.com – Pagi ini saya ingin menjawab anak-keponakan yang rajin kirim kisah-kisah spiritual. Yang terakhir dia kirim tentang kebahagiaan seseorang yang didapat bukan dari prestasi karir dan koleksi materi, tapi dari empati atas anak-anak cacat yang bersukaria, karena 200 kursi roda yang disumbang untuk mereka.
Tanggapan saya: “Itulah, Nak. Hadiah tertinggi yang kita dapatkan dari memberi, yakni… bahagia. Tak ada yang lebih tinggi dari itu.”
“Akan lebih bahagia lagi, jika kita yang hidup kita sendiri tidak mudah, mampu membuat orang lain hidupnya lebih tak mudah dan bahagia, karena perhatian dan uluran tangan kita.”
Sabtu sore yang lalu, saya mengantar istri dan emaknya, menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Dalam perjalanan itu kami berjumpa dengan sepupunya yang tinggal di Bogor, sedang berboncengan motor dengan suaminya, untuk bersama-sama mengunjungi Mbah Nyamin, 84 tahunan. Mbah mereka yang sakit paru-paru dan jantung, serta penglihatannya yang kabur.
Sebelum pulang, istri yang menghimpun kunjungan kasih ini, menyerahkan amplop berisi patungan sebagian berkat Tuhan dari para cucu dan buyut Mbah Nyamin yang sakit.
Di pipinya mengalir air mata, dari bibirnya tak terucap kata, tapi dari wajahnya nampak bahagia yang hanya dapat dibaca oleh mereka yg di hatinya ada palungan.
“Mbah bungah banget, utamane kowe podho tilik. Sanajan ora Natalan (moslem), Sugeng Natal yo… Berkah Dalem,” kata Mbah terharu.
“Kami bahagia melihat mbah Nyamin bahagia. Itu saja, mbah!“ sahut istriku.
Tak perlu malu jadi sekadar penyalur berkah.
…
Jlitheng

