Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Manusia itu adalah makhluk sosial yang mampu mengekspresikan kerinduan nuraninya untuk selalu hadir serta ada bersama.”
(Didaktika Eksistensi Kemanusiaan Sejati)
…
| Red-Joss.com | Sudah sangat lazim dalam adat dan budaya bangsa kita, hadirnya tradisi bersilaturahmi tatkala hari Lebaran tiba.
Tradisi yang sudah membentuk sebuah kultur agung ini, mampu menghadirkan sebuah cara unik dan spesial. Saat orang-orang dapat saling mempereratkan tali persahabatan dengan cara berkunjung.
Tradisi baik yang sudah mengultur ini, tidak saja terjadi di kalangan masyarakat abangan, tapi juga di tingkat elite bangsa.
Tradisi bersilaturahmi yang telah membudaya ini, bahkan sanggup membuka gerbang kesakralan istana negara lewat tradisi open house.
Bagaimana sibuknya para menteri dan para petinggi bangsa, bahkan rakyat jelata yang bersilaturahmi ke istana presiden.
Namun, sejujurnya lewat tradisi baik dan bernilai rohani ini, di sana-sini juga terdapat tindakan berbasa-basi alias sekadar formalitas.
Tulisan ini secara implisit mau mendeskripsikan sebuah aktivitas yang sekadar rutinitas. Artinya sudah hilang makna luhurnya.
Sekaligus juga mau menggambarkan, bahwa di sana pun ada ratapan, karena sirnanya sebuah nilai agung di dalamnya.
Karena nyata, bahwa ada pihak-pihak yang berbeda haluan politik atau pilihan politik yang dengan terang-terangan mempertontonkan sikap menutup pintu hati pada hari suci ini.
Mereka justru secara latah telah menggunakan berbagai cara atau gaya untuk menyebarkan bau busuk dari pertikaian mereka.
Lihat dan cermati suasana silaturahmi via media tulis dan eletronik yang mempertontonkan, tajamnya perbedaan prinsip serta haluan berpolitik dan bernegara mereka.
Sampai-sampai ada media yang secara leluasa dan transparan telah menggambarkan sakitnya hati para elite mereka sebagai dampak negatif dari perseteruan di masa lalu.
Silaturahmi, oh, sang silaturahmi, di mana dan ke mana perginya roh kemuliaanmu, sebagai ajang pereratan tali persahabatan?
Hal ini mau membuktikan juga, bahwa betapa sulitnya untuk mengubah dan menyembuhkan rasa sakit hati menjadi ajang kegembiraan lewat roh kesucian hari lebaran ini.
Karena yang terjadi, justru bukanlah kesempatan untuk mempererat tali persaudaraan, tapi malah sebagai ajang mempertontonkan rasa balas dendam dan pahit hati mereka.
…
Kediri,ย 13ย Aprilย 2024

