Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sikap optimis adalah obat paling mujarab dalam kehidupan manusia.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Pentingnya Hidup Sadar
Sungguh betapa pentingnya aspek ‘hidup sadar’ itu. Bagaimanakah Anda seharusnya bersikap di dalam kehidupan yang sangat menantang ini? Karena bukankah hidup sadar dapat bermakna, bahwa Anda hidup dalam kesadaran penuh: ‘tahu apa kelebihan dan kekurangan diri sendiri.’
Hanya lewat sebuah kesadaran total itulah, Anda dapat bersikap wajar: baik dan benar di hadapan sesama.
Cermati Kisah Klasik ini:
Sikap
Di antara para mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi (PT), ada seorang mahasiswa yang selalu memakai sebatang tongkat di saat beraktivitas di kampus.
Dengan sikap sadar diri tinggi ia tampil seadanya, sederhana, tapi luwes, dan tahu diri tinggi. Ternyata mahasiswa spesial ini, memiliki sikap optimis yang melampaui keterbatasan fisiknya.
Di sisi yang lain, dia juga memiliki banyak prestasi akademik, bahkan menjuarai aneka bidang lomba ilmu pengetahuan dan keterampilan hidup.
Di suatu hari, salah seorang temannya bertanya tentang alasan, mengapa dia sampai mengalami cacat.
“Aku memang sudah lumpuh sejak masa bayiku,” sahutnya.
“Tapi coba beritahu saya, mengapa dalam menghadapi dunia yang keras ini, kamu justru selalu tampil dengan sikap penuh percaya diri?”
“Oh, ya,” jawabnya sambil tersenyum, “Tapi kecacatan diriku ini, ternyata tidak menyentuh hati saya untuk meratapinya.”
Pentecostal Evangel
(1500 Cerita Bermakna)
Kecacatan Fisik-Mental bukan Penghambat Pelayanan Kita
Di dunia yang sangat dinamis ini, kita hidup, bergerak, dan berada justru agar hidup kita dapat bermakna bagi sesama. Untuk itu, kita terus berusaha agar aneka potensi yang kita miliki juga dapat bermanfaat dalam pelayanan kita kepada sesama. Kita harus berusaha mengembangkannya.
Semoga dalam kondisi apa dan bagaimana pun kita tetap hadir sebagai ‘sarana penyalur rahmat Tuhan’ bagi kebahagiaan dan kesejahteraan hidup sesama.
Jadi, kecacatan fisik – mental kita, hendaknya tidak jadi penghambat dalam pelayanan kita kepada sesama. Cacat fisik-mental ini bukanlah sebuah perintang untuk mempersembahkan diri kita kepada sesama.
“Aku hadir demi mereka!”
Kediri, 21 September 2025

