Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya sendiri.”
(Abraham Lincoln)
Pentingnya Sikap Optimis
Optimis adalah suatu sikap keyakinan atau kepercayaan pada kemapuan diri sendiri, bahwa ia sanggup untuk melakukan sesuatu demi meraih sebuah tujuan. Sikap optimis itu hendaknya mutlak dimiliki demi kesejahteraan hidup kita.
Kisah Jenderal Oda Nobunaga
Sang Jenderal yang berani dan cerdik itu berniat menyerang musuhnya. Walaupun ia tahu dan sadar, bahwa pasukannya jauh lebih kecil daripada pasukan musuhnya. Ketika mendengar tekad sang Jenderal, maka tidak sedikit dari anak buahnya yang meragukannya.
Sebelum berangkat untuk berperang, mereka berhenti di sebuah Kuil untuk berdoa. Setelah berdoa, sang Jenderal itu mengambil sekeping koin dari dalam saku celananya sambil berkata, “Saya akan melempar koin ini ke udara. Kalau hasilnya kepala, berarti kita akan menang, kalau ekor, berarti kita akan kalah. Mari kita lihat, apakah nasib kita.”
Sang Jenderal melemparkan koin itu ke udara, dan ternyata hasilnya adalah kepala. Tidak pelak, moral seluruh terntara itu membaik, dan mereka dengan gagah berani serta optimis terjun ke medan pertempuran. Walhasil mereka akhirnya menang.
Seusai pertempuran besar itu, seorang Letnan berkata kepada sang Jenderal, “Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah nasibnya.” Sang Jenderal hanya tersenyum dan menyerahkan koin itu kepada sang Letnan. Eh, ternyata koin itu kedua sisinya adalah kepala.
(Berguru pada Saru)
Pentingnya Sikap Optimis
Mencermati kisah sang Jenderal yang pemberani nan cerdik itu, apakah yang mau simpulkan? Apakah sesungguhnya, yang jadi misteri terbesar dari balik kemenangan itu?
Jika ditilik dari aspek jumlah pasukan, seharusnya mereka akan kalah telak. Tapi fakta membuktikan, bahwa ternyata mereka menang.
Dalam konteks ini, tampak pada sikap cerdas sang Jenderal. Itulah misteri terbesar di balik kemenangan itu. Bahwa betapa cerdasnya dia membangun sikap optimis di dalam diri pasukannya lewat proses undian yang sebetulnya hanyalah sebuah sarana pembangkit spirit keberanian dan daya juang tinggi semata.
Di sisi lain, ternyata betapa kuatnya kepercayaan anggota pasukannya pada aspek nasib, yang diperoleh hanya lewat sebuah proses undian. Gambar kepala itu diyakini sebagai pratanda awal dari sebuah kemenangan.
Pratanda itu sebagai sebuah suport psikologis yang mampu membangkitkan spirit berperang yang bernyala-nyala. Jadi, itulah kemenangan yang dibangun lewat sikap optimis.
Konklusi
Maka, dapat dikonklusikan, bahwa betapa vitalnya sikap optimis itu di balik seluruh perjuangan dalam hidup ini.
Refleksi
- Ternyata daya dan kekuatan sentral di dalam diri seorang manusia, justru terletak pada aspek kerohanian serta psikologisnya.
- Maka, sikap optimis itu mutlak kita miliki, di dalam hidup dan perjuangan ini.
“Si vis pacem, para bellum.” (Cicero)
(Jika ingin berdamai, maka berperanglah)
Kediri, 28 November 2025

