Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jiwa gelisah jadi tenteram, karena kasih. Orang asing berubah jadi kawan, karena kasih. Ia yang jauh
jadi dekat, karena kasih. Sungguh apa saja dapat Anda capai dengan kasih. Hati sekeras apa pun meleleh, karena kasih. Berikan kasih, sebarkan kasih. Hiduplah dalam kasih.”
(Baba Tolaram)
Empati itu adalah…
Secara definitif, ‘empati’ itu adalah kemapuan untuk bisa memahami dan merasakan perasaan orang lain, seolah-olah itu adalah perasaan saya sendiri.
Secara filosofis, ‘empati’ itu berarti mengakui, bahwa kita terhubung dan berbagi pengalaman manusia yang sama, sehingga kita pun harus saling memahami dan peduli.
Tindakan Empati dan Compassion
Di suatu malam nan dingin menusuk tubuh, di saat sedang menunggu bus, saya sempat melihat seorang Perempuan tua turun dari sebuah bus. Kemudian ia berlangkah perlahan ke arah tempat perhentian bus. “Malam yang tidak menyenangkan, ya,” bisiknya kepada saya. Semoga saya cepat dapat bus berikut.”
Saya bertanya di dalam hati, bukankah Ibu tua ini baru saja turun dari bus? Mengapa dia tidak melanjutkan perjalanannya dengan bus yang sama itu?
“Lho, bukankah tadi Ibu baru turun dari sebuah bus. Mengapa tidak meneruskan perjalanan dengan bus yang sama itu?”
“Begini,” katanya terbata-bata, “Di bus tadi, ada seorang pemuda cacat. Tak seorang pun menawarkan tempat duduk kepadanya, dan saya tahu, bahwa dia akan merasa malu, jika seorang Ibu tua justru berdiri, karena telah memberikan tempat duduk kepadanya. Saya pun berpura-pura untuk turun sambil menekan bel. Dengan cara ini, tentu pemuda itu tidak perlu merasa malu. Tentu saja, masih ada bus lain untuk saya, bukan?”
(Mary Clymonths/Catholic Digest)
Pergulatan Nuraniku
Ya, dengan sambil mencermati makna kisah paling interisan dalam hidupku ini, saya terus bergulat dengan nurani sendiri. Ternyata di bumi yang terasa keras dan kaku ini, masih ada figur yang mulia hatinya? Makhluk langka ini turut dari planet bumi yang mana, ya?
Dengan mencermati saksama “pergulatan batin Ibu tua itu, yang justru rela untuk turun di tengah jalan, hanya ingin berpura-pura, agar tidak memalukan pemuda cacat itu. Sungguh, betapa luas, dalam, dan cermatnya ia mengkalkulasi emosi pemuda cacat itu.
Dalam konteks peristiwa yang sangat mengharukan hati ini, bukankah seorang bijak selalu tidak ingin mempermalukan orang lain, karena sikapnya, bukan?
Refleksi
- Ya, bukankah sikap empati itu telah membantu kita untuk memahami perasaan orang lain? Sedangkan compassion itu telah membawa kita untuk peduli dan ingin membantu orang lain?
- Jadi, dalam konteks ini, dapat dikonklusikan, bahwa “empati itu adalah sebuah langkah pertama, sedangkan compassion itu adalah sebuah langkah lanjutan!”
- “Bukankah banyak orang sudah jadi kaya, hanya dengan memperhatikan hal-hal yang diabaikan orang lain?”
(Henry Ford)
Kediri, 21 Maret 2026

