Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Siapa yang
menggunakan tongkat,
benci kepada anaknya,
tetapi siapa yang
mengasihi anaknya,
mengajar dia pada
waktunya.”
(Refleksi bagi para Orangtua)
Mari kita merefleksikan sebuah kisah dramatis dan mengharukan ini sambil mengoreksi diri kita.
Siapakah yang Bersalah?
Di saat seorang nara pidana hendak dieksekusi dengan disetrum lewat kursi elektrik, kepada dia diminta untuk menyampaikan isi hatinya sebagai permohonan terakhir. Maka, dia meminta secarik kertas dan setangkai kena.
Inilah ungkapan isi hatinya …
Ibuku tersayang, jika hukuman ini memang adil, seharusnya saat ini Bunda hadir di sini, duduk di sisiku menunggu saat aku disetrum. Tapi lantaran hukum ini buta, maka saya dinyatakan bersalah atas berbagai kejahatan yang telah kita lakukan bersama.
Bu, Ingatlah, sederet kisah pahitku di masa lalu bersama Ibu!
- Ingatkah Ibu, bahwa di saat usiaku tiga tahun, aku telah mencuri permen milik kakak. Tapi, saat itu Ibu tidak menasihatiku, bahwa aku telah bersalah, bukan?
- Di saat aku berusia lima tahun, aku pernah mencuri mainan milik anak tetangga dan sempat menyembunyikannya di runah. Tapi, Ibu malah bilang, bahwa mainan itu tidak ada di rumah.
- Di saat aku berusia dua belas tahun, aku sempat menyembunyikan bola milik sepupuku di garasi. Tapi Ibu malah bilang, bahwa Ibu hanya melihat sebelum bola itu hilang.
- Di saat aku berusia lima belas tahun, ingatkah, bahwa aku sempat dikeluarkan dari sekolah? Saat itu, Ayah sangat berang dan berniat menghukumku, tapi Ibu justru menolak dan mengatakan, bahwa hal itu karena aku belum dewasa. Ingatkah, malah Ibu mempersalahkan guruku?
- Bahkan tatkala aku telah berusia tujuh belas tahun, aku telah mencuri dan menjual sepeda milik tetangga kita? Bukankah di saat itu Ibu justru diam saja?
Ketahuilah Bunda, semua kesalahan kita itu seolah menjalar hingga ke detik-detik aku hendak dieksekusi saat ini.
Bunda, aku masih sangat belia, maka aku masih membutuhkan perlindunganmu. Semoga, di saat Ibu membaca tulisanku ini, aku sudah di alam sana.
Salam hormat, wahai Ibundaku. Dari anakmu tersayang!
(Dari berbagai Sumber)
Ini Salah dan Dosa Siapa?
Pendidikan adalah suatu proses panjang yang bermula sejak dari dalam keluarga. Maka orangtua adalah sang pendidik utama dan pertama.
Sang Ibu, justru jadi kunci utama dalam proses bertumbuh-kembangnya anak dari bayi ke anak, dari anak ke remaja, dari remaja ke pemuda, dan dari pemuda menuju dewasa. Inilah sebuah mata rantai edukasi yang tak terputus, namun justru utuh menyatu.
Ibu yang Dewasa
Kita tentu membutuhkan figur Ibu yang dewasa dan matang secara lahir batin. Jika ditelisik jauh serta mendalam, justru keteledoran Ibu sebagai kunci utama dari seluruh permasalahan ini.
Ibu yang salah dalam memaknakan arti dasar dari konteks pendidikan secara baik dan benar.
Pendidikan yang Salah Arah
Dalam konteks ini, anak telah kehilangan figur Ibu yang tidak tegas dan transparan di dalam mendidik anak. Dia malah seolah membiarkan perilaku menyimpang anak dan condong berusaha untuk membela dan melindunginya.
Dampaknya, bahwa anak justru bertumbuh di dalam suatu ketimpangan secara mental dan spiritual.
“Sayang, nasi telah jadi bubur!”
…
Kediri, 4 Februari 2025

