Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Berpijaklah selalu pada fondasi kebenaran, agar engkau pun tidak terjungkal karenanya.”
(Amanat Kehidupan Sejati)
Fondasi Sebuah Bangunan
Sebuah bangunan mutlak memiliki sebuah fondasi. Fondasi itulah sebagai dasar pijakan dari seluruh bangunan itu. Jika kian tinggi dan besar sebuah bangunan, idealnya kian kokoh pula fondasinya. Sehingga ketika terjadi goncangan akibat gempa bumi atau saat diterjang banjir bandang, maka bangunan itu tidak roboh atau terseret oleh arus banjir.
Ada Orang yang Penopang
Suatu hari di sebuah desa, seorang Bapak sedang bermain-main dengan anaknya. Bapak itu memanggul anaknya di atas pundaknya sambil berjalan mengitari bangunan rumahnya.
Saat berada di tengah rumah, Bapak itu membiarkan anaknya untuk berdiri di atas pundaknya dan memintanya, agar dia menggapai tiang induk rumah itu.
Sungguh, betapa girang hati anak itu. “Ibu, ayo, lihatlah, sekarang aku sudah lebih tinggi dan lebih besar daripada Bapak. Bukankah aku sudah bisa menyentuh tiang induk rumah kita, sedangkan Bapak tidak bisa.”
“Benar sekali Nak, kini kamu sudah melebihi Bapakmu,” sahut Ibunya.
“Ayo Nak, sekarang kamu peganglah erat-erat pada tiang induk rumah kita.” Secara perlahan-lahan Bapak itu membiarkan anaknya bergantung sendirian. Tapi, saat itu juga anak itu menjerit-jerit, tatkala pijakannya sudah tidak ada lagi.
Frank Michalic
(1500 Kisah Bermakna)
Kita Butuh Sebuah Pijakan
Sanggupkah manusia hidup tanpa ada sebuah pijakan sebagai landasan atau pegangan bagi hidupnya? Adakah pula sebuah rumah yang dibangun tanpa fondasi dasar sebagai pijakan bangunan rumah itu? Ketahuilah, bahwa keduanya mutlak membutuhkan sebuah fondasi sebagai dasar pijakan.
“Berbahagialah orang yang membangun rumahnya di atas dasar batu. Bodohlah orang yang membangun rumahnya di atas dasar pasir.”
Inilah sebuah seruan kearifan dalam hidup kita. Bukankah sebuah kebijaksanaan itu akan melahirkan sebuah kekokohan hidup, sedangkan kebodohan itu justru mendatangkan kehancuran dalam hidup?
Berdiri di Atas Fondasi Iman
Jadi, dalam konteks kearifan ini, selayaknya sebuah kehidupan sejati hanya akan berdiri kokoh, justru tatkala ia berdiri di atas sebuah pijakan yang kokoh pula.
Bukankah hanya lewat pijakan iman, maka kita pun akan berdiri kian kokoh di sepanjang ziarah hidup kita?
Sikap Dewasa dalam Beriman
Dalam konteks ini, maka sungguh, dalam beriman kita membutuhkan sikap kedewasaan, sehingga kita tidak membutuhkan siapa-siapa lagi selain Tuhan sebagai penyanggah abadi hidup kita!
In te Confirm
Kediri, 26 September 2025

