Fr. M. Christoforus, BHK
“Di Indonesia hanya ada tiga orang polisi jujur:
satu, patung polisi.
Dua, polisi tidur, dan tiga,
Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso.”
(Gus Dur)
Sulit Menemukan Figur Orang Jujur
Di negeri ini, kita sangat sulit untuk menemukan sesosok figur yang sungguh jujur. Bahkan lewat sebuah guyonan nyentrik dan menarik, mantan Presiden ke-4 RI Abdul Rachman Wahid alias Gus Dur sempat melontarkan joke, “Di Indonesia, hanya ada tiga orang polisi jujur: 1. patung polisi, 2. polisi tidur, dan 3. Jenderal polisi Hoegeng Imam Santoso, Kapolri.
Mengapa ternyata kita sangat sulit untuk menjumpai figur yang sungguh jujur?
Honeste Vivere
Dalam perjalanan peradaban sejarah Romawi kuno, terdapat sebuah keutamaan paling bergengsi ialah “keutamaan politik dalam aspek kejujuran.”
“Honeste Vivere” artinya “hiduplah dengan jujur.” Ulpianus, dalam karyanya berjudul “Digesto,” memaparkan tiga kewajiban moral bagi setiap warga negara Romawi, yakni,
- Suum cuigue tribuere: berikan kepada orang, apa yang jadi haknya.
- Honeste Vivere: hiduplah dengan jujur.
- Alterium non laedere: jangan menyakiti orang lain, demikian Pius Pandor, CP dalam bukunya “Ex Latina Claritas.”
Beliau bahkan menulis, bahwa ‘sikap jujur sangatlah penting ditekankan, terutama dalam konteks Indonesia yang termasuk dalam daftar negara paling korup di dunia. Hal ini terjadi, karena ada yang percaya pada adagium klasik “jujur bikin ajur (hancur). Jadi, belum menghayati diktum yang mengafirmasikan, bahwa “jujur bikin mujur dan selamat.” Kejujuran itu akan menuntun orang pada kedalaman hidup, yaitu pada suatu proses menuju keautentikan diri, demikian Pius Pandor, CP.
Jujur untuk Apa dan kepada Siapa?
Kejujuran itu adalah suatu kebajikan moral, maka setiap kita perlu mewujudkannya dalam hidup. Inilah sebentuk tanggung jawab kita kepada negara.
Kejujuran itu diukur dalam konteks relasi kita dengan sesama manusia. Bukankah setiap kita perlu bersikap jujur dan terbuka kepada sesama? Selain itu, pertama-tama kita mutlak untuk jujur kepada diri kita sendiri. Inilah sebuah modal terbesar secara moral yang perlu kita miliki.
Tingkat Kejujuran di Negeri Kita
Bagaimanakah tingkat dan kualitas kejujuran warga negara kita secara publik di negeri ini? Apakah kita ini termasuk sebagai sebuah bangsa yang jujur ataukah tidak?
Jika kita mau jujur dan berani untuk mengakuinya, bahwa ternyata bangsa kita tergolong sebagai bangsa yang terkorup di level Asia pun di tingkat dunia, bukan?
Wabah korupsi yang sudah mencengkram nurani bangsa kita, malah sudah dianggap sebagai sebuah kewajaran yang dapat dipahami secara publik. Bahkan sikap manipulatif berupa tindakan korupsi ini, tidak lagi dilakukan secara personal, tapi sudah kian mewabah justru dalam bentuk berjamaah.
Lewat tulisan reflektif ini, kepada pribadi masing-masing maupun kepada kita bersama, diajukan pertanyaan, “Siapakah yang masih bersikap jujur di antara kita?” Bukankah kita sudah tergelincir ke dalam sebuah adagium konyol, “Orang jujur adalah orang yang tidak setia kawan?”
Tahukah kita, bahwa sungguh, betapa malangnya nasib si jujur di negeri ini?
Ia, si jujur itu akan ditendang dan bahkan dihabisi dari gelanggang gaib yang paling brutal di negeri antah berantah ini.
Masih adakah orang yang paling jujur di negeri ini? Jika ada, siapakah dia?
Kediri, 10 Mei 2025

