“Siapakah aku ini, hingga merasa berhak menakar benar atau salahnya orang lain?”
Kita semua adalah karya Allah, masing-masing dari kita dengan waktu mekar yang berbeda.
Ketika kita berhenti menunjuk jari dan mulai membuka hati kepada orang lain, perasaan teduh di hati ini muncul, karena kita memilih melepaskan beban menghakimi orang lain.
Dalam ketenangan ini, kita selipkan doa tulus bagi teman-teman yang juga sedang bergumul. Sebab, itulah inti dari perjalanan hidup ini, damai dengan diri sendiri, agar kita bisa memeluk sesama dengan lebih tulus.
Berkah Dalem.
Jlitheng

