Ferdinand, seorang remaja kelas 1 SMA yang ceria. Seminggu lalu ia terpilih jadi ketua misdinar di Parokinya. Tapi pada Minggu keduanya ia mengundurkan diri. Saat ditanya alasannya yang cepat berhenti sebagai ketua, ia hanya menjawab singkat, bahwa banyak teman memberikan komentar dan masukan yang membangun. Tapi lebih banyak lagi yang memberikan penilaian atau kritik yang negatif, bahkan juga fitnahan.
Penghakiman dan penilaian secara negatif atau ‘judgmental’ itu ada di mana-mana dan dilakukan oleh siapa saja. Menurut Tuhan Yesus, hal ini tidak boleh dilakukan, juga tidak menjadi gaya hidup para pengikut-Nya. Karena hal ini merupakan dosa yang sejalan dengan gaya hidup di dunia yang melakukan penghakiman untuk memisahkan yang salah dan benar.
Penegasan Yesus kepada kita, bermaksud untuk menghentikan kita dari kebiasaan menghakimi sehingga memvonis orang lain berdosa. Sebaliknya, kita diajarkan untuk mengutamakan sisi yang terbaik dan terhormat dari orang lain, karena melalui itu pendidikan kemanusiaan terjadi, cinta kasih bertumbuh baik, dan solidaritas bersama sebagai umat Tuhan terjaga.
Penghakiman, kritik dan penilaian itu memang tetap diperlukan bagi setiap orang, kelompok dan komunitas, tapi dengan hati dan kasih. Hal ini merupakan tugas yang suci. Orangtua mengoreksi, bahkan menghakimi anaknya tentang pergaulan antar lawan jenis yang sudah mengkwatirkan. Atau Biarawan-biarawati muda dihakimi dalam soal kedisiplinan hidup harian yang sudah terasa kering dan hilang mutunya. Ini merupakan penilaian yang suci.
Nasihat terbaik Yesus bagi kita ialah, barang siapa yang menilai, mengkritik, dan menghakimi sesamanya secara baik dan di dalam kasih, ia akan dinilai secara baik juga oleh Tuhan. Kemudian, siapa yang dapat menghakimi dengan benar? Tuhan-lah sebagai pihak yang memberikannya, karena Dialah sumber kasih dan kebaikan. Kita sebagai umat-Nya ikut memberikan penilaian dan penghakiman yang benar dan baik karena kita memang dipakai oleh Tuhan.
Caranya ialah berangkat dari diri kita untuk menilai diri sendiri, apakah kita bersih atau terbebaskan dari kesalahan dan dosa. Jika kita berbuat dosa yang sama dengan orang yang kita berikan penghakiman, sementara kita sendiri belum bertobat sedikit pun, itu sama dengan dusta atau munafik. Hasilnya bisa nihil, karena orang akan mengatakan berikan dulu buktinya pada diri sendiri, kalau memang Anda bersih atau sudah berubah. Kata dan perbuatan itu harus sejalan.
“Ya, Tuhan Yesus Kristus, buatlah kami tulus dan benar dalam memberikan penilaian, kritik dan masukan terhadap sesama kami, dan pakailah kami untuk menyampaikan kebenaran itu melalui kata dan perbuatan kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

