Kita mudah mengatakan, “Aku dekat dia.” Kita juga sering mengatakan, “Aku peduli dia.” Tapi tunggu dulu…!
Yang bisa mengatakan, bahwa kamu sungguh dekat itu adalah orang yang merasakan kehadiran dan cintamu yang tulus. Yang bisa merasakan, bahwa kamu peduli padanya adalah orang yang menerima banyak perhatian darimu dengan tanpa banyak bicara.
Jika kita datang mendekat itu dilandasi motivasi buruk dan tidak sehat, biasanya kedekatan itu tidak bertahan lama, karena mudah luntur secara alami.
Jika kedekatan itu hanya sekadar ‘basa-basi’, maka pada saatnya akan mudah terlupakan.
Dalam situasi yang khusus, kita dapat merasakan siapa sebenarnya yang sangat dekat dengan kita. Hal ini yang membuat kita bangga, bahwa bisa mengenal A, B, dan C… atau mereka itu telah jadi bagian dari sejarah hidup kita.
Dengan orang-orang yang seperti itu, kita senang hati untuk selalu mendoakan mereka. Di saat kita mendoakan dia atau mereka, terasa sekali kita makin dekat dan bahagia.
Kita juga bisa bertanya, “Mengapa saya harus dekat atau peduli dia?” Jawabannya adalah, karena ada peristiwa tertentu yang membuat kita dekat dan peduli dengannya. Kisah indah yang tersimpan dan terpatri di hati itu tidak hilang, tapi abadi.
Kadang, kita bertanya, “Kita ini bukan siapa-siapanya dia, kok bisa dekat dan peduli dengannya?” Jawabannya adalah, begitulah cara semesta memperlihatkan misterinya. Kita bisa merasakannya, tidak hanya mudah mengatakan, “Aku dekat, atau aku peduli dia.”
Semoga mereka yang dekat dan peduli kita itu jadi persahabatan yang sejati. Karena di hati ini tidak ada niat untuk melukai, kecuali saling mengasihi.
Macau, 16 Agustus 2025
Rm Petrus Santoso SCJ

