Lho?! Yang bener. Jangan tendesius dan berprasangka buruk, ah. Kau ini sok tahu. Apa benar orang baik itu dimusuhi, dicaci, atau difitnah?! Dasarnya apa, ngomong seperti itu. Coba kendalikan diri dan kontrol emosi. Jangan ‘gusra-gusru’, dan mulut ini asal ngejeblak. Ntar malu sendiri, kan tengsin.
Coba tanya yang bersangkutan.
Nah, benar kan. Dia tidak merasa dimusuhi. Dia tetap senyum, walau dihujat atau dicaci. Coba amati gestur tubuh dan wajahnya yang cerah sumringah itu. Senyumnya tulus. Tidak marah, benci, apalagi dia mendendam.
Nah, kalau menilai seseorang itu jangan bercermin dari diri sendiri. Itu tidak obyektif. Dangkal, terlalu naif. Bahkan bikin malu, dan jadi malu-maluin.
Lalu? Ya, tidak perlu komentar miring dan nyinyiran. Gitu saja, kok repot. Capai dan pusing sendiri.
Jika orang bilang, kebaikan yang saya, kau, dan kita lakukan itu sebagai pencitraan, ya, biarin saja. Baru punya jabatan ‘sakprit’ saja udah belagu. Kaya dikit, lagunya seperti kaum borjuis. Baru bisa membeli mobil butut, gayanya serasa naik Ferrari.
Apakah nyinyiran dan sindiran itu membuat kita terusik dan berkecil hati? Ya, dicuwekin saja. Tidak perlu ngambek, sakit hati, lalu mogok. Hal itu tidak perlu diurusin dan dipanjanglebarin. Menanggapi omongan orang itu tidak ada habisnya. Bikin capai dan hanya buang-buang energi tanpa guna.
Siapa pun boleh ngomong sesuka hati, karena mempunyai mulut, dan itu jadi tanggung jawabnya sendiri.
Camkam dan untuk disadari, jika kita tidak mampu atau tidak mau terlibat dalam perbuatan baik, sebaiknya kita tidak menghalangi orang yang ingin melakukannya.
Orang sirik itu tanda tidak mampu. Anjing menggongnggong kafilah pun berlalu.
Alangkah bijak, jika kita tetap fokus bekerja, beraktivitas, dan produktif untuk berbuat baik serta positif guna perubahan diri ini, dan untuk orang lain.
Kita melakukan kebaikan itu tidak perlu digembar-gemborkan. Tapi dilakukan dalam senyap dan untuk dilupakan. Karena kita melakukan semua itu dengan tulus ikhlas.
Jika kita khilaf dan berbuat salah, juga tidak perlu malu atau marah, ketika diingatkan. Berani meminta maaf itu suatu tanda kita rendah hati dan berjiwa besar.
Jadi, jika orang baik dimusuhi itu datangnya dari si Jahat. Berbuat baik itu melepas tanpa kehilangan, karena sumber kebaikan itu berasal dari Allah yang Maha Baik.
Teruslah berbuat baik, rendah hati, dan bijaksana.
Tuhan memberkati.
Mas Redjo

