Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Si dia yang bertampang mulia, tetapi berjiwa munafik.”
(Didaktika Hidup Sejati)
Dia adalah si Bunglon
‘Si Penjilat’, yakni dia yang tampaknya bersikap serba manis, tapi maaf, justru selalu bersikap ‘lain di bibir dan juga lain di hati.’ Dia tampil sebagai pribadi yang suka berkamuflase, ibarat bunglon, yang bisa bertukar rupa dan tampang, namun selalu tidak tulus, karena memang selalu ada niat terselubung di balik itu.
Secara filosofis, dalam ilmu filsafat dikenal sebagai pribadi ‘hipokrit’ alias ‘munafik.’ Mengapa justru dijuluki demikian? Karena ia selalu tampil sebagai pribadi yang baik, namun ternyata bermotif tidak tulus.
Kisah The Fox and The Grapes
Berikut saya tampilkan sebuah kisah tentang “Seekor Rubah dan Seikat Anggur” (Dari Aesop’s Fables), Cerita Yunani Kuno.
Dikisahkan, seekor Rubah nan angkuh yang sangat ingin untuk memakan seikat buah anggur. Namun sayang, ia ternyata tidak mampu menjangkaunya, karena buah-buah anggur itu berada di tempat yang terlalu tinggi baginya.
Lalu apa yang dibuatnya? Ia mulai mereaksi dengan cara menggosip, menyebarkan fitnah keji, berupa berita hoaks, bahwa buah-buah anggur itu, ternyata tidak enak rasanya, dan tidak layak untuk dikonsumsi.
Si Penjilat memang selalu saja Mau Menjilat
Mengapa Rubah menggosip demikian? Itulah sikap dan pola tingkat ‘berkompensasi,’ karena ia tidak mampu untuk menjangkau buah-buah anggur, maka ia mau menyeimbangkan dengan menyebarkan isu, bahwa buah anggur itu memang tidak enak untuk dikonsumsi. Penyebaran fitnah hoaks itu ditiupnya justru demi mengimbangi ketidakberdayaan atau ketidakmampuannya menggapai buah-buah anggur itu. Itulah sebuah aksi konyol yang dilemparkan hanya demi menutupi wajah bopengnya. Padahal, masalah yang sesungguhnya, justru karena memang ia tidak mampu mencapai tempat setinggi itu.
“Manusia, wahai sang manusia, apakah sesungguhnya, yang kau ingin cari di bumi ini?” Sekeping gengsikah? Secarik keangkuhankah? Ataukah segunung kepalsuan semu, yang justru akan kian memunculkan wajah bopengmu?
Sungguh, kejinya nurani culas dari seorang Penjilat yang senantiasa mau menjilat, dan bahkan ia rela untuk menjilat kembali ludahnya sendiri. Bukankah semua aksi konyol ini, justru kian memperlihatkan kepalsuan dirinya?
Liciknya Pribadi Penjilat
Ia licik bak belut air sungai. Mudah bergerak ke segala penjuru hanya demi menyebar dan menyemburkan racun maut dari kepalsuan kubangan nuraninya. Betapa ia selalu tampil dengan berwajah manis serta berbahasa halus; tapi hatinya justru selalu mau berkata lain. “Lain di bibir lain di hati.”
Refleksi
- “Tuhan, siapakah sesungguhnya aku ini di mata-Mu?”
- “Apakah aku hanyalah penjilat sejati yang berwajah bunglon?”
- “Hingga kapankah aku akan bertahan dalam kepalsuan ini?”
- “Tuhan, sembuhkanlah aku, karena aku tidak sanggup untuk memikul beban kemunafikan ini!”
Bukankah sebuah kepalsuan itu akan beranak pinak?
Kediri, 13 November 2025

