Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Pendapat kita boleh jadi benar, tetapi berpeluang salah.
Sementara pendapat lainnya boleh
jadi salah, tetapi berpeluang benar.”
(Imam Syafi’i)
Berkonotasi Negatif
Tentang ‘sikap manusia yang selalu merasa diri paling benar’ itu telah jadi istilah trendi kekinian dan dipandang sebagai sarkastik serta berkontasi negatif alias jelek di mata warga masyarakat kita.
‘Si Paling Benar’ adalah sikap yang bersangkutan menganggap kebenaran yang diyakininya sebagai mutlak dan cenderung menghakimi yang berbeda,” demikian Alissa Wahid dalam tulisannya yang berjudul, “Si Paling Benar” kolom Gaya Hidup, Kompas, Minggu, (11/7/2025).
Dalam tulisannya Alissa Wahid mengedepankan, bahwa sikap Si Paling Benar itu cenderung untuk menafikan semua pandangan dan pendapat dari pihak lain. Sekalipun pandangan dan sikap pihak lain itu sudah terbukti kebenarannya.
Dalam paragraf pertama, dituliskan, bahwa ‘Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersikukuh, bahwa tidak ada pemerkosaan massal yang terjadi di puncak kisruh tragedi 1998. Bahkan setelah dicerca para wakil rakyat di DPR dan disodorin laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Peristiwa Kerusuhan Mei 1998, ia berdalih, bahwa yang ia permasalahkan adalah kata ‘massal’. Ia tetap meyakini, bahwa itu hanya rumor tanpa bukti hukum, yang mengisyaratkan tidak terjadi pelanggaran HAM berat kala itu.
Menafikan Pendapat dan Bukti dari Pihak Lain
Ia bahkan menafikan kesaksian para pendamping korban dan pencarian fakta, juga menafikan kesimpulan Pelapor Khusus PBB untuk kekerasan terhadap perempuan.
Selain itu, ia juga menafikan sikap pemerintah periode-periode sebelumnya, sejak Presiden BJ Habibie tahun 1998 sampai sikap Presiden Joko Widodo yang memasukan kerusuhan Mei 1998 sebagai pelanggaran HAM berat masa lalu yang sedang diupayakan penyelesaiannya, tulis Alissa, Wahid.
Pembuktian Historis
Bahkan penulis menyoroti, bahwa sejarah telah membuktikan sikap Si Paling Benar ini akan selalu menyulut konflik dan bahkan api peperangan. Antara lain:
- Konflik berdarah Hutu dan Tutsi ternyata berujung genosida di Rwanda pada tahun 1990.
- Apartheid dan diskriminasi atas warna kulit, juga dipicu oleh sikap merasa diri paling benar.
Terlepas dari data dan pandangan penulis lewat tulisannya, bahkan secara kasat mata, juga tidak jarang telah terjadi aneka kerusuhan berupa sikap intoleran serta fanatisme buta yang juga terjadi di dalam masyarakat kita pun merupakan buah-buah ranum dari sikap merasa diri paling benar itu.
Tumbuhkan Sikap Kejujuran dan Rendah Hati
Bukankah akar dari segala kejahatan berupa: percekcokan, iri hati, serta kecemburuan justru bersumber dari dalam hati manusia? Untuk itu, maka segera tumbuhkan sikap kejujuran dan kerendahan hati sejati.
Kesombongan justru berakar dari sikap gila hormat. Itulah ciri paling unik dari sikap Si Paling Benar!
Kediri, 15 Juli 2025

