Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Si bijak menawarkan permata dan si bodoh memamerkan sampah.”
(Didaktika Hidup Sejati)
…
Si Bijak dan Si Bodoh
Anand Krishna dalam bukunya yang berjudul “Renungan Harian Penunjang Meditasi,” menulis demikian, “Ia yang bijak berbicara dengan matanya. Ia yang bodoh menelan dengan telinganya.”
Yang bijak itu tidak perlu bicara banyak. Apa yang ingin disampaikannya dapat ia sampaikan lewat sorotan matanya. Sebaliknya, ia yang bodoh diberitahu apa pun juga akan masuk lewat satu telinga dan ke luar lewat telinga lain. Ia tidak mampu mencerna apa yang ia dengarkan. (Anand Krishna).
Efek Kunjungan Sri Paus
Kunjungan Sri Paus Fransiskus ke Indonesia (3-6/9/2024), ternyata menyisakan aneka reaksi dari masyarakat Indonesia.
Ada yang bersikap sangat positif dan ada pula yang bersikap negatif. Hal ini menunjukan sebuah kewajaran bagi sebuah bangsa besar.
Mendeskripsikan Kualitas Diri
Fakta membuktikan, bahwa kehadiran beliau justru dapat diterima dan direaksi juga secara positif walaupun ada juga pihak-pihak yang berusaha untuk menjegal, mematikan saluran penyiaran, mempertanyakan faedah kedatangannya, bahkan meneror, dll.
Dalam konteks ini, kita dapat menyimpulkan, bahwa ini adalah ranah spesial psikologis, bagaimana sang manusia itu mau menunjukan sikap dan kualitas dirinya.
Antara Mata dan Daun Telinga
“Si Bijak dan si Bodoh.” Dilukiskan, bahwa orang bijak berbicara lewat matanya. Dia juga tidak banyak berbicara. Sedangkan si bodoh menelan dengan telinganya. Masuk lewat telinga kiri dan segera ke luar lewat telinga kanannya.
Dalam konteks ini disandingkan antara dua buah kualitas manusia. Si bijak tidak banyak bercakap karena ia cenderung untuk mendengar, memikirkan, mencernakannya, baru ia berkata-kata. Dia pandai memanfaatkan sorotan matanya dalam bersikap. Sedangkan si bodoh tidak pandai mendengar, ia doyan untuk berkata-kata sekalipun sekadar asal bunyi.
Bagaimana kita bersikap di dalam hidup ini, jika ternyata ada sesama kita yang cenderung bersikap bodoh?
Fatalnya lagi, bahwa sering kali si bodoh itu justru tidak menyadari akan rendahnya kualitas dirinya di tengah sesamanya.
Tidak jarang kita kuga bersua dan bersama dengan pribadi-pribadi bodoh itu di dalam hidup kita.
Lebih bijak, pahami keberadaan khas mereka dan tetaplah untuk bersikap arif sesuai kualitas diri kita.
Jangan terpancing dan jangan pula terjerembab ke dalam lubang kebodohan!
…
Kediri, 17 September 2024

