Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Di saat Anda memandang seutas tali yang terulur, apa yang terbayang dalam benak Anda?”
(Didaktika Hidup Bermakna)
…
| Red-Joss.com | Setiap orang bebas memaknakan sesuatu atau sebuah fenomena dalam hidup ini tentu sesuai dengan tanggapan serta persepsi personalnya.
Sebuah Persepsi Bersifat Personal
Anda dan saya tidak berwewenang sedikit pun untuk menantang seseorang yang memiliki persepsi berbeda tentang sesuatu atau sebuah fenomena hidup.
Mengapa? Bukankah sebuah persepsi itu bersifat sangat personal? Jika si A berpersepsi tentang sesuatu berbeda dengan si B, maka hal itu adalah sebuah kelumrahan. Karena setiap orang yang dengan latar belakang dan cara memandang yang berbeda tentu akan bebas berpersepsi pula.
Ilustrasi Imajinatif
Ketika seseorang sedang bergegas di sebuah lorong yang sepi dan sempit, dan dari jarak agak jauh tampak seutas tali terulur ke bawah.
Di saat ia kian mendekat, ternyata dugaannya itu tidak meleset. Ya benar, seutas tali yang terulur!
Di sini, terjadi sebuah proses perjumpaan antara indra mata yang melihat dan otak yang berpikir, maka hadirlah sebuah konklusi berupa presepsi.
Persepsi Membentuk Sebuah Makna
(1) Si A akan berpersepsi, bahwa seutas tali yang terulur itu adalah alat untuk menjerat pencuri atau binatang buas yang melintas di lorong itu.
(2) Si B akan berpersepsi, bahwa seutas tali yang terulur itu adalah sarana pembunuh sebagai alat untuk menggantung diri.
(3) Si C akan berpersepsi, bahwa seutas tali yang terulur itu adalah sarana penyelamat diri di saat seseorang terjatuh ke dalam lorong sempit itu.
Gambaran Riil Hidup
Lewat ketiga persepsi yang berbeda, antara (A, B, dan C), maka kita diajak untuk mendapatkan sebuah gambaran riil, bahwa itulah sejatinya yang terjadi di dalam hidup kita ini.
Setiap orang akan berpersepsi sesuai cara pandang, latar belakang hidup, dan kebebasannya dalam berpendapat. Kita sebagai sesama manusia patut menghargai akan aneka persepsi ini.
Konklusi dalam Hidup
Sebuah persepsi tentu dapat berubah sesuai sikon tertentu. Sebaliknya, dapat saja persepsi itu tidak berubah, dan itu jadi sebuah presepsi permanen.
Jika dianalisis jauh dan mendalam, ternyata dari seutas tali terulur itu sudah dapat menimbulkan aneka persepsi yang berbeda.
Apalagi, jika kita hidup dan berada di dalam masyarakat yang sangat majemuk (multikultural).
Kini kian mengertilah kita, bahwa mengapa selalu terjadi kegaduhan, bahkan kekacauan di dalam hidup ini, jika terjadi sesuatu yang lebih ekstrem dari sekadar seutas tali yang terulur.
Mari, kita hidup dan terus belajar untuk berani menghargai setiap titik perbedaan di dalam hidup berkomunitas ini!
Kedewasaan sejati, justru terlahir dari kesadaran, bahwa berbeda itu wajar dan waras. Indah, bukan?
…
Kediri, 29ย Septemberย 2024

