Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Apa manfat dari seutas
tali?” tanya Sang Guru.
“Untuk menggantung
diri, jawab seorang
murid.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Pertanyaan Sang Guru
Di hadapan sejumlah muridnya, seorang Guru memperlihatkan seutas tali sambil mengajukan pertanyaan.
“Para muridku, menurut pendapatmu, apa gunanya seutas tali ini?”
Tampak para murid diam seketika. Ada juga yang diam sambil saling memandang, mengernyitkan kening, dan tidak sedikit pula yang sangat serius berpikir.
Setelah beberapa waktu berlalu, sekali lagi sang Guru bertanya, “Para murid, apakah ada yang akan menjawab?” Setelah lewat beberapa saat, tampak seorang murid yang dikenal paling berani itu menjawab.
Sebuah Jawaban yang Paling Menantang
“Manfaat dari seutas tali itu tak lain dan tak bukan digunakan sebagai sarana untuk menggantung diri.”
Seketika para murid lainnya terperanjat dan hampir tidak percaya akan jawaban yang sangat menantang itu.
Sementara itu, dengan langkah perlahan Guru yang merasa penasaran itu mendekati sang murid, menatap bola matanya dalam-dalam lalu sambil berbisik ke telinganya, “Nak, mengapa kamu menjawab demikian?”
Lalu murid itu dengan sikap lugunya menjawab, “Ya, aku mengetahui hal itu karena biasa Ayahku berkata demikian.”
Keesokan harinya, Guru yang sangat peduli itu kembali mengobrol dengan murid itu. Maka diketahui olehnya, ternyata murid itu berasal dari keluarga yang serba berkekurangan. Katanya, “Ayahku sering mengatakan kepada saya, bahwa jika kami terus dirundung kemalangan, maka baiklah kami akhiri saja hidup ini lewat cara menggantung diri.”
Setelah mendengar tuturan murid, maka mengertilah sang Guru atas jawaban yang mengejutkan itu.
Filosofi Hidup si Miskin
Lewat jawaban murid yang sungguh mengejutkan itu, maka mengertilah saya akan filosofi dan pandangan hidup khas si miskin. Bukankah bahwa di setiap kelompok manusia, biasanya mereka memiliki pandangan hidup yang sangat khas sesuai sikon hidup mereka?
Hidup yang Sungguh Mengenaskan
Berdasarkan realitas dan pandangan hidup yang miris itu, maka sungguh kepada kita disuguhkan sebuah realitas hidup yang menyakitkan hati. Karena ternyata begini konyolnya kehidupan ini, sehibgga orang rela untuk menggantung diri hanya dengan alasan kemiskinan.
Menumbuhkan Pengharapan
Hidup ini adalah sebuah anugerah dan rahmat berlimpah dari Tuhan demi kebahagiaan manusia. Tapi, fakta hidup justru ini berbicara lain tatkala orang-orang justru berhadapan dengan sebuah realitas pahit pedih. Mereka telah kehilangan harapan hidup, karena dililiti kemiskinan.
Bukankah filosofi bunuh diri lewat cara menggantung adalah sebuah sikap dan pandangan hidup yang sangat ekstrem?
Bukankah hal ini mau membuktikan, bahwa kemiskinan adalah sebuah kegagalan hidup yang ujungnya akan berakhir secara tragis?
Kegagalan melahirkan sikap kehilangan pengharapan.
Maka, bukankah orang-orang gagal adalah mereka yang telah kehilangan pengharapan?
…
Kediri, 25 Februari 2025

