Fr. M. Christoforus, BHK
“Air mata adalah ekspresi ledakan isi hati terdalam dari sang manusia.”
(Anonim)
…
Air Mata di Pipi Pilu
Secara manusiawi biasanya, seseorang secara refleks mudah untuk mengucurkan air mata di saat bersedih, berduka, dan bahkan di saat bergembira. Hal itu reaksi sangat spontan dan alamiah dari hati serta jiwa sang manusia.
Butir-butir titik air mata itu biasanya mengalir lewat cekungan pipi dan membasahinya.
Kisah Titik Air Mata
Alkisah pada suatu kesempatan, Tuhan membolehkan para malaikat kecil untuk turun ke bumi. Di sana mereka boleh mencari hadiah yang terindah untuk dipersembahkan kepada Tuhan.
Sesampai di bumi, betapa mereka tercengang dan terkagum-kagum akan aneka keindahan di atas bumi.
Banyak hadiah yang mereka bingkiskan untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Namun, hanya seorang malaikat kecil yang justru bertangan hampa, ia tampak tidak membawa bingkisan.
Hadiah Terunik
Hadiah apa yang dipersembahkan? Ketika para malaikat lain tuntas menyodorkan hadiah-hadiah mereka, maka berdiri dan majulah si makaikat kecil itu.
Di hadapan Tuhan, makaikat kecil itu dengan cermat dan berhati-hati membuka kedua tangannya dan memperlihatkan ‘setitik air mata’. “Inilah Tuhan, setitik air mata duka yang saya ambil dari pipi seseorang yang berdoa sambil meneteskan air mata di sebuah kapel tua nan sunyi.”
Malaikat cilik itu menduga, bahwa orang itu pasti sedang sungguh berduka dihimpit beban hidup. Namun, hebatnya ia toh tetap tegar dan penuh berharap kepada Tuhan.
(Dari Berbagai Sumber)
Sikap Hati Tuhan
Konon, pada akhir kisah, Tuhan pun berdiri dan merangkul sangat erat makaikat kecil itu sambil berbisik, “Kamu telah memberi-Ku hadiah yang terbagus dari semuanya.”
“Karena orang-orang yang mengalami masalah dan kesulitan, namun tetap tegar menjalani kehidupan, merekalah yang paling dekat di hati-Ku.”
Refleksi Penderitaan Manusia
Tulisan ini merupakan sebuah refleksi tentang pahit getirnya kehidupan manusia yang menderita.
Dalam konteks kerohanian dan keimanan, sejatinya mereka itu bukanlah orang-orang tersingkir dan terbuang, namun justru sebagai kekasih Tuhan.
Karena para penderita itu tetap tegar dan terus berjuang serta berharap, itulah para sahabat dan kekasih Tuhan.
Tuhan yang berhati lembut dan penuh belas kasih adalah simbol kelembutan hati seorang Bapak sejati.
“Tuhan, di bawah naungan payung kasih sayang-Mu, kami datang berhimpun dan selalu berharap pada pemeliharaan-Mu!
…
Kediri, 28 Agustus 2024

