Tidak terbayangkan yang dirasakan Bunda Maria, ketika mendampingi Yesus, terutama pada saat sengsara dan wafat di salib. Sebagai Ibu, yang bersehati dengan Yesus, penderitaan yang dialami Yesus juga menghancurkan perasaannya. Kebanyakan Ibu mungkin histeris, berontak, kehilangan kendali, bahkan mungkin pingsan menyaksikan anaknya yang tidak bersalah itu diperlakukan semena-mena, dihina, dan direndahkan.
Bunda Maria tampil sebagai wanita yang luar biasa. la tidak berdaya berbuat apa pun untuk membela dan melepaskan Yesus. Yang bisa dibuatnya adalah, ia menemani Yesus pada saat-saat berat hidup-Nya. Bunda Maria mampu menguasai diri, tidak tenggelam dalam kesedihan dan penderitaannya sendiri.
Di dalam kelembutannya, Bunda Maria adalah pribadi yang kuat berhadapan dengan penderitaan. la fokus pada Yesus Putranya; hadir, dekat, dan menguatkan hati Putranya. Melihat hidup Maria, Bunda-Nya yang luar biasa ini, Yesus menyerahkan Bunda-Nya itu kepada murid-Nya, juga kepada kita.
Bunda Maria senantiasa mendampingi kita, terutama pada saat-saat tersulit hidup kita, sebagaimana yang kita serukan “doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati.”
Kita berbondong-bondong meminta pertolongan dan penyertaan Bunda Maria. Sayangnya, terkadang kita hanya ingin disertai dan ditolong jadi sukses. Kita berhenti meminta tolong dan penyertaan Bunda Maria, ketika kita tidak berhasil. Kita lupa dengan yang didoakan “… sampai kami mati.”
Bunda Maria tetap mendampingi kita juga pada saat-saat kita menderita dan tak berdaya, bahkan ketika penderitaan itu membuat kita sampai pada titik ‘nol’ hidup kita.
Selain bersyukur atas Bunda Maria sebagai sahabat dan penghibur di dalam situasi tragis, kita juga diundang untuk meneladaninya. Kadang-kadang saudara-saudari kita yang mengalami penderitaan dan situasi tragis serta tak berdaya datang menjumpai kita. Kita memang tidak dapat melakukan apa-apa, karena keterbatasan kita. Namun, ketidakberdayaan kita tidak boleh membuat kita lari dan menghindar. Kita masih jadi teman, sahabat, penghibur, dan penguat bagi mereka. Kita mengembangkan ‘sense of tragic’. Kehadiran kita sudah membuat mereka menyadari, bahwa mereka tidak sendirian.
“Ya Bapa, kami bersyukur mempunyai Bunda Maria. Ajarilah untuk jadi sahabat bagi saudara-saudari kami yang mengalami penderitaan dan situasi tragis dalam hidup mereka. Mengasihi ikhlas hati. Amin.”
Ziarah Batin

