“Menekuni profesi dengan hati, karena sesungguhnya kita ini bukan siapa-siapa.” -Mas Redjo
Yohanes Pembaptis berseru-seru di padang gurun mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Ia berkhotbah tentang pertobatan, bahwa “Kerajaan Surga sudah dekat.” Sedang saya bergumam lirih di kesunyian diri.
Saya bergumam dalam keheningan, karena sadar, saya ini bukan siapa-siapa, sehingga hidup saya harus dimaknai supaya berarti.
Ketika memutuskan di masa tua ini untuk menekuni dunia kepenulisan, saya mencoba belajar untuk setia. “Jika semua ini kehendak-Mu, ya, Allah, mohon semangat kerendahan hati.”
Saya alih profesi, ketika rezeki baik sedang membawa saya ke puncak dunia. Meskipun kepindahan profesi itu disayangkan relasi dan dibodoh-bodohkan oleh teman, tapi semua itu saya tanggapi dengan senyum dan tanpa rasa ketersinggungan. Saya juga tidak mau membela diri, karena mereka tidak tahu maksud dan tujuan saya menulis.
Saya menulis tidak untuk mencari pengakuan diri supaya terkenal, apalagi tulisan jadi heboh dan viral. Jauh panggang dari api, karena saya menulis hal-hal sederhana, kecil, dan remeh temeh. Tidak untuk menyenangkan atau menyerang orang lain, tapi untuk kebahagiaan diri ini.
Maksud dan tujuan saya untuk jadi penulis adalah, bahwa “Saya ingin jadi makin kecil dan tidak berarti sedang Dia jadi makin besar” (Yoh 3: 30).
Orientasi saya menulis itu tidak pada hasil, tapi pada ketaatan dan kesetiaan profesi saya untuk meneruskan anugerah-Nya. Menulis itu untuk makin mengenali jatidiri. Jalan pulang kepada Allah dalam sunyi dan sendiri.
…
Mas Redjo

