Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ibuku, inilah anakmu. Anakku, inilah Ibumu!”
(Seruan di antara langit dan bumi)
…
| Red-Joss.com | Jika saya mengingat akan tiang palang salib, spontan secara naluri, saya pun teringat akan, kata-kata, “Via Dolorosa serta Mater Dolorosa.” Jalan kedukaan serta Bunda yang Berduka.
Berani dan setia berdiri di bawah kaki salib, berarti Anda, telah setia memandang sosok yang seolah sudah tak berdaya bergantung di atasnya. Berarti pula, Anda telah setia mematung di bawah keteduhan duka salib.
Bukankah salib, justru sebagai batu sandungan serta kebodohan bagi dunia?
Sungguh benar, kehadiran palang salib, telah menjadi batu pergunjingan serta penistaan bagi dunia. Bahkan olok-olokan serta hinaan keji, hingga detik ini, dan entah hingga kapan.
Namun, toh’ masih ada pribadi-pribadi yang justru setia dan berani berada di bawahnya. Masih ingatkah kita, akan ketiga Maria yang setia di bawah tiang salib?
Maria Magdalena, Maria Ibu Yakobus, dan Maria Salome. Juga masih ingatkah kita, akan seruan dari atas tiang palang salib itu, “Ibu, inilah anakmu!” Dan “Anak, inilah Ibumu!”
Salib, oh sang Salib Suci. Simbol penghinaan tiada tara yang telah berubah menjadi kemenangan gilang-gemilang.
Lewat renungan ini, kita diajak untuk mengenang kembali, kisah penglihatan ajaib, Konstantinus (312) M, saat dia berniat menyerang Maxentius yang menggunakan kekuatan supranatural serta ilmu sihir? Apa yang telah terjadi? Di saat Constantinus hendak berdoa, dilihatnya sebuah tulisan di atas langit, “In hoc, signo vinces” artinya Dengan tanda ini, engkau akan menang.
Sesungguhnya, apa makna salib bagi kita?
“Dengan tanda ini, engkau pun akan menang!” Menang dari apa dan melawan siapa? Apa makna sejati dari kata menang itu?
Dengan berani dan setia berdiri di bawah kaki salib, berarti Anda dan saya, telah setia pula memahami, makna sejati dari โjalan penderitaanโ.
…
Kediri, 1ย Septemberย 2023

