Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hanya ketulusan sejati yang akan kekal nan abadi.”
(Didaktika Hidup Sejati)
“Ketulusan itu bagaikan selingkar mahkota emas yang melingkar indah di atas kepala orang-orang yang jujur dan tulus hatinya.” Demikian sebuah janji nan abadi dari Sang Kebenaran sejati!
Kisah si Tukang Kayu
Ada seorang tukang kayu tua yang berniat untuk pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia lalu menyampaikan niatnya itu kepada Bos pemilik perusahaan.
Bos merasa sedih atas kehilangan salah seorang pekerja yang terbaik. Ia memohon kepada karyawannya itu agar membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.
Tampak tukang kayu itu mengangguk tanda setuju, walau sesungguhnya hatinya tidak ikhlas. Ya, ia sungguh merasa terpaksa. Hatinya memang tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan dikerjakannya rumah itu dengan menggunakan bahan-bahan bangunan murah. Akhirnya selesai juga rumah itu. Hasilnya tampak sebuah rumah yang hanya ala kadarnya. Sungguh, pantaslah untuk disayangkan, karena prestasi gemilangnya selama ini, seolah dikuburkan dengan pekerjaan terakhir yang sungguh mengecewakan hati siapa pun yang memandangnya.
Ketika Bos datang untuk melihat rumah itu, ia menyerahkan sebuah kunci rumah kepada tukang kayu itu. “Ini adalah rumahmu, sebagai hadiah terakhir dariku untukmu,” katanya.
Betapa terkejutnya tukang kayu itu. Ia malu dan menyesali sikapnya yang sungguh tidak tulus itu. Ia sempat berbisik kepada dirinya, “Andaikan aku tahu, bahwa rumah ini akan dihadiahkan kepadaku, pasti akan kukerjakan dengan sangat sempurna.” Ya, tapi ‘nasi telah menjadi bubur.’
(Inspirasi tanpa Menggurui)
Sebuah Jati Diri yang Dipertaruhkan
Sungguh benar, jika dikatakan, bahwa ketulusan adalah sebuah batu ujian, tentang kesejatian hidup seorang anak manusia. Siapakah aku ini? Hal yang diuji itu adalah soal ‘kualitas kesejatian’ dari seorang manusia.
Dalam konteks ini, keunggulan dan prestasi yang sudah diperlihatkannya selama ini, sesungguhnya hanyalah sebuah kepura-puraan, agar dirinya disanjung. Jadi, tidak didasarkan atas ketulusan sejati.
Refleksi
“Vera Amicitia est Inter Bono”
(Persahabatan sejati hanya terjadi di antara orang-orang yang tulus)
“Nosce te Ipsum”
(Kenalilah dirimu sendiri)
Kediri, 4 Januari 2026

