RedJoss.com – Sesal, perasaan menyesal itu bukan sekadar kata-kata manis yang keluar dari mulut, melainkan muncul karena terang Ilahi. Kita dimampukan oleh-Nya untuk melihat kesalahan sendiri dan memperbaikinya.
Sesal, sungguh menyesal itu juga tidak sekadar “kapok lombok” alias mengulang-ulang kesalahan yang sama. Tapi, datang dari kesadaran hati agar kita berani berubah jadi baik dan semakin baik.
Tidak mudah memang, jika niat itu sekadar suam-suam kuku atau pelarian semata. Sebab, sekalipun kita bersembunyi di tempat yang terpencil nan sepi, hal itu juga tidak ada manfaatnya. Kesadaran yang hakiki itu muncul dari kedalaman hati.
Menyesal itu juga tidak cukup sekadar niat semata, tapi kudu diikuti oleh hidup pertobatan agar kita sungguh menyesali segala perbuatan buruk dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
Dengan bertobat berarti kita dilahirkan kembali. Kita dimaafkan, diampuni, dan dikasihi agar kita meninggalkan cara hidup lama. Dari yang jelek dan jahat menjadi pribadi baik dan murah hati.
Hidup dengan kepribadian baru itu menuntut perubahan diri. Terus berbenah, berubah, dan berbuah, itu hal yang tidak mudah. Karena, dibutuhkan tekad, komitmen, dan perjuangan agar perubahan hidup itu jadi nyata.
Dengan pertolongan Allah, tak ada hal yang mustahil.
Dengan kesungguhan hati dan atas izin-Nya, tak ada perjuangan yang sia-sia.
Dengan mendahulukan kepentingan orang lain dan memahaminya, kita menjadi pribadi yang sabar dan rendah hati.
Sesungguhnya, hidup bermakna itu jika kita rela berkorban bagi sesama dan ikhlas.
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

