Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Perubahan itu abadi, bagian kodrati manusia. Maka, adat budaya sebagai hasil budi daya manusia pun ikut berubah. Ada yang lama bertahan sebagai tradisi, namun zaman ikut mengubah bahkan menghilangkan tradisi. Data tahan tradisi adat budaya sangat tergantung dari komunitas pemiliknya. Salah satu alasan terkuat adalah sejauh mana khasanah adat budaya itu bermanfaat bagi komunitas pemiliknya.
Dinamika perubahan tradisi adat budaya terjadi khas dan berbeda-beda di setiap komunitas. Faktor internal komunitas adalah penentu utama. Apakah para pemangku, pemimpin suku dan generasi penerus masih merasa bermanfaat, sehingga melindungi, merawat dan menghidupinya. Pengaruh faktor luar, memang ikut berperan. Namun, semuanya tergantung komunitas pemilik warisan adat budayanya.
Fakta zaman, ada perkembangan modernisasi dengan sistem pendidikan, sarana teknologi transportasi dan komunikasi. Ada juga pengaruh dari agama, sehingga turut mengubah tradisi adat budaya komunitas.
Soal prinsip hidup, nilai dan moralitas, cara pandang terhadap alam dan kematian, cara mengelola alam lingkungan serta pola relasi sosial budaya dan politik. Ekonomi dan pasar modern menjadi satu faktor kuat mempengaruhi tradisi adat budaya. Latar belakang tradisi lisan di kebanyakan komunitas adat budaya sepertinya kalah terhadap tradisi literer dan digital dari dunia budaya Barat. Ada akulturasi, asimilasi, sinkretisasi dan kreasi budaya.
Pada fakta punahnya sejumlah khasanah kearifan lokal di sejumlah komunitas adat budaya, memang terasa miris dan memprihatinkan. Lalu, karena terbatasnya nara sumber, minimnya data dan catatan, membuat upaya mempelajarinya saja sulit. Ada beberapa yang sempat dilestarikan dokumen dan datanya di museum luar negeri, karena pada zaman penjajahan dahulu sempat diamankan oleh para ilmuwan zaman itu. Ada ahli antropologi dan etnologi yang sempat membuat dokumentasi dan penulisan, lalu disimpan di perpustakaan negaranya. Misalnya di Belanda, Inggris dan Jerman. Maka, bagi peminat generasi sekarang, harus belajar ke negeri Barat tentang khasanah adat budaya kampung halaman sendiri. Perlu kuasai bahasa asing tersebut.
Untuk khasanah kearifan adat budaya di setiap komunitas adat budaya, semua kembali kepada generasi muda pewaris. Apakah dianggap baik, berguna dan masih dibutuhkan. Bukan pihak luar komunitas untuk menjaga dan melestarikan. Mungkin ungkapan ini kembali relevan untuk kita generasi muda penerusnya. “Kalau bukan kita, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi.” Ini soal identitas budaya dan jati diri, jika memang masih diperlukan secara pribadiย danย komunitas.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

