Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Kemajuan zaman dengan aneka teknologi, membuat kehidupan terus berubah. Beberapa sarana modern seperti transportasi dan komunikasi telah membuka ruang komunitas yang tertutup dan sejenis. Ada pembauran adat budaya, agama, relasi kepentingan sosial ekonomi serta politik. Maka, setiap pribadi dan komunitas menjadi pluralis.
Karena kondisi demikian, semua orang dipaksa untuk belajar beradaptasi, mau solider dan bersikap toleran. Keharusan mengubah diri dengan nilai, cara pandang, pola pikir dan tindakan baru itu, karena kita sungguh saling membutuhkan dan harus saling melengkapi. Alasan utama ialah kita masih menyayangi anugerah kehidupan ini. Lalu, sumber daya alam lingkungan terbatas, untuk manusia yang bertambah banyak.
Dengan fakta dan kebutuhan yang demikian, ternyata terus berkembang pula aneka ragam kasus bahkan kebiasaan sebaliknya. Maraknya masalah sosial, kriminalitas, radikalisme serta terorisme. Ini berarti nilai solidaritas dan toleransi pun tidak mudah tercipta. Rupanya, ada banyak individu dan kelompok memilih cara hidup berbeda, demi kepentingan diri dan kelompoknya. Segala cara dihalalkan demi kepentingan individu dan kelompok, termasuk melawan prinsip solidaritas dan toleransi.
Kehidupan menjadi semakin penuh tantangan, dan terjadi banyak perubahan prinsip, nilai, cara pandang dan cara berpikir, sehingga mempengaruhi pola tingkah laku dan perkataan. Entah di kota maupun di kampung, zaman sekarang hampir serupa tantangan dan kebutuhan, karena dipermudah teknologi informasi digital.
Baik lembaga negara, agama, pendidikan, maupun adat budaya terus berjuang menjaga solidaritas serta toleransi. Namun, fakta kasus yang merusak pun terus marak terjadi. Bahkan terkesan di media sosial bahwa konten yang paling diminati adalah soal kekerasan, kasus radikalisme, masalah kriminal dan moral, juga kasus politik dan ekonomi.
Maka, antara kebutuhan dan harapan akan adanya solidaritas serta toleransi, justru semakin mahal dan sulit. Kehidupan semakin keras dan galau, karena miris dan perlahan sirna solidaritas dan toleransi. Apalagi dialami sepertinya wibawa lembaga adat budaya, agama dan negara begitu lemah menghadapi maraknya praktek kekerasan dan intoleransi di negeri ini, bahkan dunia.
Entah bagaimana menghadapi dan berapa lama akan nyaman untuk suburnya solidaritas kemanusiaan dan toleransi dalam kehidupan bersama.
,,,
Foto ilustrasi: Istimewa

