Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Pernah saya dengar ungkapan, bahwa “secara kodrati, semua manusia membutuhkan dan lapar kasih sayang, serta dahaga cinta perhatian dari sesamanya. Karena itu, setiap orang terpanggil dan terlahir untuk menjadi pembawa kasih sayang bagi sesamanya, seperti yang dibutuhkannya dari orang lain.” Lalu, dalam sejarah peradaban setiap komunitas adat budaya, kasih sayang, dan cinta perhatian berkembang sesuai konteksnya. Keluarga dan suku mengajarkan melalui praktek kehidupan untuk bertahan di tengah suku bangsa lain dan konteks alam lingkungannya. Salah satu tali pengikat adalah relasi keluarga melalui perkawinan, relasi kekerabatan dan darah.
Ketika berkembang sarana transportasi dan komunikasi, semakin mencair relasi antar komunitas adat budaya, melalui kepentingan dagang, politik dan bidang lainnya, termasuk agama. Agama dari suku bangsa asing ikut masuk dan berpengaruh ke dalam komunitas lokal di Nusantara. Ada pengaruh agama Hindu, Budha, Kristen, dan Islam. Banyak komunitas adat budaya menerimanya, sehingga terjadi semacam asimilasi dan inkulturasi. Pasalnya, sebelum masuknya pengaruh agama asing, sudah ada tradisi spiritual dalam setiap komunitas adat budaya di Nusantara. Dalam era kemerdekaan NKRI, negara mengakui sejumlah agama serta penghayat, penganut kepercayaan atau agama lokal.
Sementara umat Islam berpuasa di bulan Ramadhan, umat Katolik sedang memasuki perayaan Tri Hari Suci, yakni Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Paskah dan Paskah. Khusus perayaan Kamis Putih, satu tema sentral adalah ajaran dan perintah cinta kasih dari Yesus. Isi perintah-Nya adalah kasihlah Allah dengan segenap jiwa ragamu, dan kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi diri sendiri. Jauh lebih istimewa dari hukum kasih itu adalah kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi orang yang menganiaya kamu. Tidak gampang penegasan khusus ini, untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka.
Belajar dari kampung sejak kecil, sebagai generasi pewaris adat budaya, sekaligus sebagai umat Katolik, saya mengalami, bahwa praktek hukum cinta kasih tidak mudah. Sungguh sebuah perjuangan memikul salib dan jatuh bangun, baik pemula agama maupun umat. Kendalanya bersumber dari kapasitas dan kualitas iman setiap pribadi, serta pengaruh adat budaya dalam komunitas. Apalagi zaman now, ketika ramai medsos dengan maraknya info radikalisme dan terorisme di tanah air. Herannya, radikalisme atas nama agama dan Allah.
Sungguh membingungkan, tapi nyata terjadiย hinggaย kini!
…
Foto ilustrasi: Istimewa

