Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Ketika duduk santai di kampung, ada jagung goreng, sayur urapan dan arak lokal sebotol, diskusi terjadi. Lalu, ada yang tunjukkan video dari Ade Armando, tentang Korupsi Berjamaah dan Koruptor Kolektif. Apa itu maksudnya, demikian pertanyaan beberapa saudara dari kampung. Kok yang dipenjara satu-satu koruptor, mengapa dibilang berjamaah dan kolektif koruptornya?
Saya coba bercerita apa yang saya pahami. Korupsi artinya mencuri uang rakyat. Lalu, uang rakyat itu, dalam sistem negara kita, diputuskan anggaran pemakaiannya oleh wakil rakyat dan pejebat eksekutif. Ditetapkan dengan peraturan dan undang-undang. Lalu, yang menggunakan anggaran tersebut adalah pemerintah, sedangkan wakil rakyat mengawasi dan nanti menerima laporan pemerintah. Ada juga lembaga khusus pengawasnya serta penegak hukumnya. Mengapa masih bisa terjadi korupsi, pencurian uang rakyat?
Korupsi bisa terjadi, karena dilakukan bersama-sama oleh pengguna anggaran dan para pengawasnya serta oknum penegak hukumnya. Aturan yang ada dan banyaknya lembaga pengawas serta lembaga penegak hukum, tidak memberi ruang untuk mencuri, jika dilakukan satu pribadi koruptor. Tapi, hanya bisa dilakukan bersama antara pengguna anggaran, pengawas anggaran serta lembaga penegak hukum lainnya. Itulah yang dimaksud dengan berjamaah, dan kolektif.
Jadi, korupsi terjadi bukan karena kurang lembaga pengawas, tidak ada aturan hukum serta kurang lembaga penegak hukum. Mungkin bisa dikatakan, korupsi dilakukan secara sistematis, masif dan terstruktur dan berkelanjutan, sehingga menjadi budaya yang subur dan beranak-pinak. Hal ini bisa terjadi di tingkat pusat, propinsi, kabupaten sampai desa. Masyarakat menonton di media sosial, jika ada kasusnya. Kasus bisa muncul kalau ada pihak yang tidak ikut serta dan tidak mendapat kebagian dari korupsi tersebut.
Maling teriak maling, karena kepentingannya tidak didapat, duitnya tidak kebagian, jabatan tidak diperoleh.
Ya, seperti duduk santai bersama di kampung ini, satu meja atau balai. Lalu, ada yang tidak kebagian rokok, minuman dan makanan serta arak lokal. Pastinya tersinggung, dan akan ekspresikan marahnya. Tapi, kalau semua kebahagian dan sama-sama menikmati, pasti aman damai dan enjoy aje. Lalu, bisa diulang kembali kesempatan berikut, bahkan menjadi semacam tradisi untuk rayakan kebersamaan dan persahabatan, karena sama kepentingannya.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

