Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Sekitar 15 tahun terakhir ini, ada sebuah “Virus Baru” yang masuk kampung, dan menjadi pemisah serta perusak harmoni toleransi antar agama yang sudah berjalan sejak leluhur. Faham baru dan ideologi asing berdasarkan keagamaan terus menyebar, dengan ciri khas, yaitu memutlakkan kebenaran agamanya dan mengkafirkan agama lain. Pengaruh ini terjadi melalui media sosial, dan khusus dengan masuknya oknum dan kelompok yang menyebarkannya. Banyak cara digunakan, antara lain melalui aktivitas ekonomi serta pertemuan terbatas dengan jaringan ekonomi yang dibentuk. Semoga tidak terjadi di daerah lain, namun di Bumi Flores sangat nyata dan pesat terjadi sekitar 15 tahun terakhir.
Kelompok radikal dengan kedok agama ini sudah menjadi fenomena nasional, bahkan melalui partai politik dan berbagai infiltrasi di berbagai departemen, lembaga pemerintah, BUMN, para penegak hukum, lembaga keuangan, media informasi serta aparat keamanan. Latar belakangnya adalah ingin mengubah ideologi Pancasila dengan ideologi lain, lalu menguasai NKRI. Kepentingannya adalah menguasai sumber daya alam di tanah air, dengan kekuatan pengaruh agama yang diyakini kelompok radikal tersebut.
Sejauh pengamatan dan dugaan saya, benteng toleransi agama di kampung-kampung tradisi, sedang diuji dan diserang; baik melalui media sosial, maupun kedatangan langsung mereka yang tampil sebagai pebisnis dan juga dakwah agama. Komunitas kampung yang sudah toleran sebagai warisan tradisi, selama ini perlahan goyah, bahkan tak berdaya. Pengaruh intoleran dengan dukungan usaha ekonomi, yang berjalan secara masif, sistematis, tersruktur dan lintas wilayah serta pribadi.
Ketahanan solidaritas persaudaraan dan toleransi keagamaan perlahan rontok, jika lembaga adat budaya melemah, lembaga agama diam, dan para penegak hukum mencari aman selamat pribadi serta kelompoknya. Hemat saya, komunitas tradisi yang membutuhkan keadaan aman damai, juga menjaga warisan nilai leluhur, harus bertindak bijaksana. Apakah masih mau damai dan toleran, atau terpaksa ikuti pengaruh radikalisme demi nama agama dan usaha peningkatan ekonomi. Geraka intoleran semakin merajalela, baik melalui media sosial maupun kamuflase kegiatan dagang – usaha ekonomi.
Dunia selebar daun kelor dengan kemajuan sarana komunikasi digital. Maka, informasi terus membanjir lintas ruang dan waktu serta lintas pribadi.
Jika tidak terampil memilah dan memilih, tidak kritis dan dewasa dalam membuat keputusan, maka pengaruh intoleran dan radikalisme gampang menguasai pribadi, apalagi dengan label agama. Hal ini terjadi dan makin menunjukkan wajah jelas, bahwa intoleran dan radikalisme atas nama agama, sudah menjadi strategi dan komoditas politik beberapa negara, demi menguasai lahan bisnis dan sumber daya alam di tanah air kita. Yang bermain strategi adalah beberapa pebisnis internasional dan negara pendukungnya. Semoga kearifan lokal kampung masih bisa menghadapi gerakan intoleran dan radikalisme atasย namaย agama.
…
Foto ilustrasi: Bernas.id – Istimewa

