Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Rumahku dekat masjid dan pasar rakyat. Daerah tempat tinggalku di pinggir pantai, namanya Nuba Bajo Karang Jawa, pasarnya sering disebut pasar Bajo atau Geliting. Nama Bajo dan Jawa, karena pelabuhan yang ada sejak zaman dahulu menjadi tempat singgah nelayan dan pedagang dari Bajo dan Jawa. Nama Geliting, dari nama pedagang orang China yakni Go Lie Tong. Lalu ada perkampungan sesama saudara dari Bajo, Bima, Makasar, Buton, Goa dan Jawa. Maka ada juga bangunan masjid untuk mereka beribadah.
Pasar lokal di pesisir pantai ini terjadi sejak zaman sebelum koloni Eropa. Maka relasi masyarakat setempat dengan komunitas budaya dari Kerjaan Goa, Bajo, Buton dan Jawa serta China, sudah sekian lamanya. Ada juga relasi perkawinan, dan solidaritas persaudaraan serta kekeluargaan terjalin harmonis. Agama yang berbeda tidak menjadi penghalang, karena saling menghormati dan menghargai, terutama karena relasi darah dalam hubungan perkawinan, serta persaudaraan karena saling membutuhkan.
Salah satu bentuk persaudaraan terlihat di pasar dekat masjid. Sehari-hari ada yang jualan ikan, sayuran, sembako dan relasinya harmonis karena berdagang. Urusan agama itu justru saling menghormati dan mendukung, padahal area ini mayoritas penduduk beragama Katolik. Satu kebiasaan menarik sehari-hari, masyarakat Katolik tidak bermasalah dengan adzan yang bergema. Juga warung makan yang kebanyakan dikelola umat muslim, konsumennya paling banyak dari umat Katolik.
Pada masa puasa, ada pasar kagetan yang terjadi. Jualan aneka minuman dan jajanan yang digelar komunitas muslim, namun pembelinya justru banyak juga dari umat Katolik. Pasar kaget senja pada masa puasa ini, biasa berjalan, dan yang bertemu adalah lintas agama yang menjadi peminat kuliner, sekaligus ikut menikmati berkah Ramadhan. Hal yang sama terjadi juga di kota dan beberapa daerah pesisir yang menjadi komunitas muslim.
Relasi harmonis pada pasar kaget masa puasa, karena didasari relasi solidaritas dalam kehidupan sehari-hari yang sangat toleran, sebagai warisan sejarah para leluhur sejak dahulu. Menurut cerita dan fakta, suasana semacam ini terjadi di wilayah Kabupaten Flores Timur, Ende dan Labuan Bajo, di mana ada komunitas muslim. Padahal, umumnya wilayah Pulau Flores, penduduk mayoritas beragama Katolik.
Ternyata, relasi harmonis itu adalah karena hubungan darah dan persaudaraan karena warisan leluhur, bukan karena kesamaan agama. Justru perbedaan agama bisa harmonis, karena relasi sosial budaya dan warisan persaudaraan sejak leluhur. Saling membutuhkan dan saling melengkapi sebagai sesama saudaraย manusia.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

