Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Saat adanya kedukaan, karena seorang sesama saudara meninggal dunia, maka keluarga pasti sangat berduka. Lalu, keluarga terdekat adalah tetangga dan sanak saudara. Selama prosesi kedukaan itu, masing-masing pribadi hadir dengan alasan, sikap dan kepentingannya. Ada yang solider untuk keluarga berduka, ada yang mendoakan keselamatan jiwa orang yang meninggal, membalas kehadiran keluarga duka saat ada kedukaan dalam lingkungan pribadinya, karena ada hubungan rekan kerja, rekan organisasi, satu asal usul adat budaya, satu komunitas agama, dan mungkin hubungan pribadi dengan orang yang meninggal.
Selain itu, hadir pula pejabat pemerintah, tokoh adat budaya, politisi, juga tokoh agama. Peran tokoh agama biasanya dengan ritual doa agama, peran tokoh adat budaya sehubungan ritual adat, sedangkan politisi mungkin ada kepentingan politiknya, dan pejabat pemerintah – entah di desa atau yang lebih tinggi, pasti selain berbelasungkawa, ada peran tertentu. Misanya sambutan untuk melepas pergi jenazah yang meninggal.
Keragaman sikap dan kepentingan ini menjadi fakta sosial, di mana hanya masing-masing pribadi yang tahu pasti. Namun, secara spiritual, biasanya ada keyakinan bahwa setiap kita yang menghadiri prosesi kedukaan sesama, adalah sebuah momen penting memaknai kematian, sekaligus persiapan bagi kematian diri kita sendiri.
Majunya perkembangan zaman modern dan teknologi informasi digital, hemat saya, ikut mengubah sikap dan kepentingan setiap pribadi terhadap kehadiran di tempat kedukaan sesama saudara. Dibandingkan pengalaman 40 tahun lalu di kampungku, dengan situasi sekarang, suasananya sungguh berbeda. Contoh saja, dahulu ketika ada kedukaan di kampung, maka seluruh komunitas dan tetangga kampung sungguh diwarnai suasana kematian. Zaman sekarang, saat ada kedukaan dalam kampung, ada keluarga dan pribadi yang lain sibuk dengan kegiatannya. Lalu, jarak tidak berjauhan, ada yang tetap memutar musik dengan volume yang besar. Pasti ada banyak alasan, yang dianggap oleh pihak tersebut benar dan perlu untuk pribadi atau keluarganya.
Apalagi di kota, ya saat ada kedukaan satu keluarga, bisa saja terjadi di rumah keluarga dan relasi sanak kerabat datang melayat serta mendoakan, namun yang lain tetap sibuk dengan rutinitas pekerjaannya. Ada juga banyak rumah duka, sehingga jenazah bisa disemayamkan di sana, lalu dilakukan posesi pemakaman; entah ke pekuburan atau dengan kremasi.
Kematian menjadi sesuatu yang biasa, dan setiap pribadi bebas bersikap dan menghadiri sesuaiย kepentingannya.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

