Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Beberapa saat lalu, saya menghadiri acara doa selamatan untuk kubur dari almarhumah Ibu kami. Ada ritual dan doa secara adat budaya dan ada juga doa dan berkat secara agama. Kubur dibuat rapih dengan keramik berbunga, dan ada gambar Kudus di keramik sebagai doa. Harapan dan iman, bahwa jiwa almarhumah yang jasadnya dikuburkan di sini mendapat tempat damai dalam kebahagiaan kekal, karena kerahiman Allah.
Untuk keluarga yang ditinggalkan, inilah ungkapan cinta dan terima kasih almarhumah semasa hidupnya. Kepada sesama yang masih hidup, kubur ini pun menjadi bentuk tanggung jawab keluarga yang diekspresikan kepada komunitas. Kubur dan semua ritual doa yang dilakukan ada makna sosial dan spiritual. Kematian ditegaskan dengan simbol kubur dari mereka yang telah mendahului kita yang masih hidup.
Setiap komunitas adat budaya dan agama memiliki tata cara serta tradisi yang bervariasi. Di kota metropolitan Jakarta, ada pekuburan umum, namun dibagi beberapa area menurut latar belakang agama: pekuburan Islam, Kristen, Budha dan Konghuchu. Bahkan ada pekuburan khusus sesuai agama. Ada manajemen dan kewajiban keluarga pemilik untuk menjamin perawatan kubur tersebut. Ada momen tertentu biasa ada kunjungan menjelang hari raya keagamaan. Karena itu, sekitar area pekuburan, ada yang menyiapkan jualan aneka kebutuhan untuk ritual di kubur.
Kubur menjadi semacam simpul relasi orang hidup dan orang mati. Kematian diperingati dan dirayakan dengan ritual doa menurut adat budaya dan agama masing-masing. Setiap orang memiliki pengalaman dan pilihan sikap kepada orang mati, maupun untuk kematiannya sendiri. Kesadaran akan energi dan fakta Kematian pun berbeda-beda, sehingga pengaruhnya kepada kehidupan kita setiap hari pun berbeda-beda. Kematian itu pasti, tetapi waktu dan caranya selalu misteri. Kecuali yang memilih kematian dengan bunuh diri.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

