Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Pengaruh perkembangan media komunikasi digital sungguh mengagumkan ke setiap pribadi. Entah di kota maupun di desa dan kampung, dusun udik. Khusus tentang kata-kata dan norma komunikasi, zaman dahulu berbeda dengan sekarang. Ada perubahan yang luar biasa dalam jargon kata, tata cara dan norma komunikasi antar pribadi maupun dalam komunitas.
Di komunitas adat budaya lokal, zaman dahulu sungguh dikenal dengan tata sopan santun dan norma komunikasi antar pribadi. Bagaimana harus dijaga tata bahasa dan pilihan kata, antara Orangtua dan anak, antar anak, remaja dan dewasa, juga sesuai jabatan sosial budaya serta ritual adat dan agama.
Zaman sekarang, khusus di lingkungan generasi muda dan anak, di komunitas kampung adat budaya, ada fenomena yang saya sebut “kebun binatang di kampung”. Yang dimaksud adalah soal pilihan kata tak sopan, cap dan seruan dengan aneka jenis binatang kepada sesama, yang menjadi ujaran yang dianggap lumrah. Misalnya, anjing, babi, bangsat, monyet, kadal, kampret, setan, dan lainnya.
Salah satu sumber pengaruhnya adalah media sosial, di mana anak dan remaja meniru apa yang diperoleh dari media sosial. Lalu, karena tak mampu dikontrol orangtua serta komunitas adat budaya, maka mereka merasa lumrah sebagai bahasa gaul. Apalagi, pola relasi komunitas budaya pun luntur serta banyak berubah oleh modernisasi dan digitalisasi. Maka, “kebun binatang” dalam komunikasi terus berjalan dan tumbuh subur. Sopan santun dan tata krama luhur, seperti warisan leluhur komintas adat budaya dan agama, sedang tergusur oleh generasi pewaris, karena pengaruh derasnya informasi global dengan sarana komunikasi digital.
Peran lembaga pendidikan, lembaga adat budaya dan lembaga agama pun mendapat tantangan serius. Seberapa kuat merawat dan menjaga tata krama, norma moral dan sosial, nilai luhur adat dan iman.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

