Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Beberapa saat yang lalu, saya berdiskusi dengan seorang nara sumber, yang sangat peduli dengan khasanah budaya kampung halaman asalnya. Beliau saya anggap sebagai seorang pemerhati dan pelestari budaya komunitas lokal kami di “Krowe – Nuhan Ular – Nuhan Naga Sawaria,” di wilayah Kabupaten Sikka, Flores, NTT. Beliau adalah Moan Tapo Watu Tena, sekarang sedang di Jakarta.
Menurut cerita beliau, sudah banyak dokumen berupa buku dan foto tentang kampung halaman sudah dikumpulkan, sejak masih studi filsafat, lalu selama berkunjung di berbagai daerah di tanah air, maupun saat ke Eropa untuk urusan keluarga. Juga sekarang dengan sarana informasi digital, beliau kumpulkan berbagai publikasi yang berkaitan dengan khasanah budaya kampung halaman. Yang menarik dan istimewa bagi saya, adalah upaya beliau untuk membuat tulisan pribadi tentang berbagai informasi sehubungan dengan khasanah budaya itu.
Beliau mengatakan tulisannya adalah semacam “otobiografi budaya komunitas”. Yang dimaksudkan dengan istilah itu adalah tulisan kesaksian pribadi tentang khasanah budaya komunitasnya, di mana dia sendiri adalah bagian dari komunitas budaya asalnya. Apa yang dialami, didengar, dilihat, dan dilakukannya, itulah yang sedang dituliskan. Ada tema khusus seperti aneka ritual adat, bahasa sastra, tempat sakral, rumah adat, dan lainnya.
Menurut penjelasannya, bahwa cara menuliskan demikian itu sebagai reaksi terhadap berbagai publikasi yang pernah ditemukan. Reaksinya terhadap metode penulis, di mana kutipan materi tulisan dibuat oleh penulis, yang tidak menguasai bahasa daerah dari materi tulisannya, tidak mengalami kejadiannya, tidak mengerti konteks dan bahasa. Sumber tulisannya justru dari kutipan penulis lain, yang juga tidak memahami materi lokal yang ditulis, namun mempublikasi sebagai sebuah hal temuan yang diyakini benar menurut penulis. Padahal, menurut Moan Watu Tena, kenyataan atau fakta yang dialaminya sebagai bagian komunitas budaya yang ditulis itu, sungguh berbeda dengan isi tulisan yang ditemukan olehnya, dari pihak lain yang sudah dipublikasi itu.
Moan Watu Tena mengatakan, “Saya menulis diri saya sebagai bagian dari komunitas, jadi bukan hasil penemuan pribadi saja. Mungkin mirip dengan kata ungkapan Afrika, Obonato yang berarti ‘aku ada karena kita ada’.
Saya dan kita makin mengenal identitas diri dan komunitas adat budaya sendiri, ternyata karena sering berinteraksi dengan orang lain dalam komunitas, serta perjumpaan dengan sesama dari komunitas budaya luar.
Mungkin, satu cara pelestarian budaya lokal adalah mendorong dan memfasilitasi generasi muda pemilik budaya setiap komunitas, untuk menulis tentang pengalaman dirinya dan tentang identitas budayanya sendiri. Inilah yang disebut Otobiografi Budaya Komunitas. Ini berbeda dengan tulisan seorang ahli secara akademis dan peneliti, yang bukan menjadi bagian integral dari komunitas budaya yang dituliskannya.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

