Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Sering muncul pertanyaan dalam refleksi, mengapa kematian dan jenazah begitu dihargai? Ada berbagai posesi kematian seorang manusia, begitu kaya dan bervariasi ritual di setiap komunitas adat budaya serta agama dan kepercayaan. Doa dan ritual penguburan menjadi penegasan akan berharganya jazad setiap orang. Juga, kematian itu sakral dan sedemikian bernilai bagi manusia.
Warna-warni posesi kematian, kiranya mengajarkan, bahwa pribadi manusia itu ciptaan istimewa, harkat martabat manusia adalah berkat Sang Pencipta, dan kehidupan begitu berharga bagi yang meninggal maupun yang masih hidup. Ada kaitan kodrati dan hakiki manusia dengan Sang asal dan tujuan kehidupan, ada relasi integral dengan sesama yang masih hidup maupun yang sudah mendahului, serta ada hubungan mutlak dengan alam semesta ini. Fakta kematian menegaskan hal-hal istimewa tersebut.
Saya menemukan pelajaran makna kematian, ketika mengalami saat duka kepulangan orangtua, sanak keluarga, sahabat kenalan serta para pendidik dan penjasa. Juga sesama yang diberitakan meninggal, dengan berbagai kisah. Kematian itu pasti, namun cara dan waktunya tidak pasti diketahui. Manusia ingin menghindari atau menunda kematian, namun hukum kodrati dan ajal menegaskan, bahwa kematian itu mutlak bagi semua manusia yang terlahir dan hidup di dunia.
Kematian dihadapi dengan aneka ekspresi rasa, argumen pikiran, nilai dan makna kebijaksanaan, serta sikap doa dan iman. Suasana duka, karena kehilangan orang yang dicintai, ada air mata dan kesedihan, juga ekspresi lainnya, semua tidak bisa membatalkan kematian. Pengalaman hidup akan memberi pelajaran berharga tentang makna sakral kematian bagi setiap pribadi, dan akhirnya harus menerima kematian sebagai bagian diri sendiri; suka atau tidak, siap atau menolak, umur berapa saja, dengan cara apa saja.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

