Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Mengagumi khasanah tradisi lisan dalam komunitas adat budaya, serta keprihatinan akan nasibnya di zaman now, maka saya mulai belajar mengumpulkan data tulisan yang sudah ada, serta menuliskan ingatan yang saya miliki dari pengalaman sejak kecil. Latar belakang komunitas adat budaya asalku, adalah tradisi lisan. Saya coba menggunakan tiga kata kunci ini untuk menulis: apa yang dialami, yang dilihat dan didengar tentang tradisi lisan. Sejarah asal usul orangtua dan suku, cerita rakyat, cerita sejarah kampung, syair bahasa adat untuk kegiatan budaya, termasuk ritual, penggalan ungkapan dan pepatah yang masih teringat.
Dari upaya menuliskan, semakin menantang untuk berani berdiskusi dan bertanya kepada teman, beberapa keluarga yang lebih umur serta para nara sumber yang sepuh, meskipun sangat sedikit, karena banyak yang sudah meninggal. Ada pengalaman menarik, ketika bertanya tentang bahasa sastra dan ritual, yaitu sering tidak bisa dijelaskan oleh nara sumber. Jawaban yang bisa dijumpai adalah “sudah demikian sejak dari orangtua leluhur”. Maka, ada kesulitan untuk mengkaji lebih jauh maknanya. Jawaban para nara sumber mengarah pada fakta, bahwa mereka menguasai bahasa sastra adat, karena mengulang dan untuk melakukan dalam keperluan komunitas. Tidak untuk menjelaskan apa isinya dan mengkaji jika ditanyakan.
Dari pengalaman itu, saya berasumsi, bahwa untuk mengetahui dan memahami makna dalam bahasa sastra dan ritual adat, akhirnya kembali kepada refleksi pribadi dengan penguasaan bahasa itu sendiri. Perlu bekal ilmu pengetahuan modern dari membaca dan sekolah untuk menjadi alat pembanding dan mengkaji. Sebuah proses yang memang tidak mudah. Dasarnya adalah minat dan cinta kepada obyek bahasa sastra adat budaya sendiri, lalu berjuang belajar dan menuliskannya.
Sebuah fakta temuan dalam belajar tentang bahasa sastra dan ritual adat budayaku. Jika saya sendiri sebagai generasi pewaris, harus berjuang istimewa memahami bahasa sastra dan ritual dari komunitas asalku, bagimana memahami adanya penulis dari luar komunitas, yang sudah begitu percaya diri membuat buku tentang bahasa sastra kampung adat asalku? Posisi penulis yang pernah ada, adalah sedikit sekali memahami bahasa sastra dan ritual adat, bukan bahasa ibunya, tidak mengalami langsung, hanya mencatat dan menyimpulkan dari sumber sekunder, lalu sumber sekunder itu pun mencatat dari nara sumber asli. Catatan khusus, sumber sekunder sebagai pencatat pun, mereka tidak memahami bahasa sastra dan isi materi yang dicatat. Mengherankan, karena para penulis mempunyai kemudahan menulis dan menerbitkan, maka mereka menjelaskan apa yang tidak dipahami itu, sebagai hal benar versi penulis untuk dipublikasikan. Secara metode ilmiah, saya mempertanyakan isi tulisan bahasa sastra tersebut, dengan metode yang demikian itu. Harapan saya, semoga dari proses belajar ini, nanti bisa menuliskan beberapa hal yang saya alami, saya dengar sendiri dan saya lihat, sebagai generasi penerus dan bagian dari bahasa sastra dan ritual komunitas asal saya.
Kiranya bisa mempublikasikannya sebagai sebuah โsharingโ pengalaman pribadi.
Semoga!
…
Foto ilustrasi: Istimewa

