Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Ada fenomena menarik masuk kampung, ketika musim politik. Misalnya saat pilkada, pilpres dan pemilu legislatif. Kesenian tradisi, tokoh adat, ritual adat, dan sejarah asal usul pun dipakai untuk mendapat simpati serta kemenangan dalam perhelatan politik praktis.
Para calon dan tim sukses biasanya menggunakan pendekatan budaya lokal untuk mendapatkan simpati dari calon pemilih di kampung. Relasi kekeluargaan adat pun digunakan. Tokoh adat dan kepala suku didatangi, generasi muda anak cucu keluarga terpandang direkrut menjadi tim sukses atau caleg. Ritual adat budaya dan pesta pun digelar. Semuanya demi mendapat dukungan suara pemilih dari anggota komunitas.
Dalam kepentingan politik praktis tersebut, para calon pun memberikan janji, bahkan ada yang membuat sumpah adat. Suasana kampung menjadi semarak, tapi sekaligus mencekam. Alasannya, beberapa paket calon pilkada serta calon legislatif berasal dari komunitas yang sama. Sementara, relasi keluarga secara adat budaya pun sama. Maka, anggota keluarga dan komunitas adat menjadi dilema. Kehadiran para politisi itu sulit ditolak, tapi susah juga membuat pilihan yang mana.
Bagi calon pemilih yang cerdas, memang lebih mudah melakukan pertimbangan dan keputusan, karena paham, bahwa hak pilih ada pada masing-masing pribadi. Namun, umumnya warga dalam komunitas adat budaya lokal, sering terbebani dengan cara pandang budaya. Soal hubungan darah, ikut upacara adat, didatangi di rumah adat, serta pemahaman yang terbatas untuk membedakan irisan politik praktis dan nilai sakral budaya. Apalagi sekarang ini banyak partai, dan sistem pemilu yang serentak. Nasib umumnya warga komunitas adat budaya memang sering terombang-ambing saat menghadapi hajatan politik praktis, seperti saat pilkada dan pemilu legislatif.
…
Foto ilistrasi: Istimewa

