Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Teringat ketiga alat tersebut sangat akrab saat kecil di kampung. Nyiru – anyaman bilah bambu yang dibentuk bulat untuk berbagai keperluan. Misalnya menapis beras, memilah jagung yang sudah ditumbuk, atau menadah sayuran sebelum diolah. Lesung dan Alu untuk menumbuk padi, sayur, jagung, gorengan kopi dan beberapa bahan lain. Ketiga alat ini menjadi perabot penting dalam setiap rumah tangga di kampung zaman dahulu.
Ketika ada keperluan hajatan, maka ketiga alat ini pun perlu dipinjam atau dibawa serta para ibu dalam persiapan acara; khususnya menumbuk padi untuk keperluan hajatan tersebut. Maklum, zaman dahulu belum banyak tersedia beras yang sudah digiling seperti zaman sekarang.
Ada fenomena menarik ketika para ibu menggunakan nyiru, lesung, dan alu untuk mengolah padi menjadi beras. Ketika kerja bergotong-royong itu, ada banyak waktu untuk saling bergurau, berbagi cerita suka duka dan membagi persaudaraan. Rupanya, keterbatasan alat zaman itu, ada juga manfaat sosial budaya untuk relasi kekeluargaan. Ruang sosial tercipta dalam keterbatasan alat untuk saling berbagi dan saling melengkapi.
Zaman sekarang, ada keluarga dan komunitas yang masih menggunakan ketiga alat tersebut. Namun, banyak juga yang telah meninggalkannya. Apalagi yang hidup di luar kampung dan lingkungan kota yang modern. Peran dan manfaat dari nyiru, lesung dan alu telah digantikan oleh alat lain yang lebih praktis. Berkurang atau hilangnya alat tradisi itu, sangat dipengaruhi perkembangan zaman dan IPTEK, yang menyiapkan alternatif sarana yang lebih efisien dan murah. Misalnya beras yang tersedia dari proses gilingan mesin, sayur yang sudah dikemas, serta berbagai sarana elektrik untuk blender dan lainnya. Saat yang sama, ada manfaat sosial yang ikut hilang dan semua lebih bersifat pribadi individual. Setiap zaman dan alat-alat yang digunakan memiliki manfaat kontekstual bagi pemakainya di setiap keluargaย danย komunitas.
…
Foto Ilustrasi: Istimewa | Antara

