Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Sudah sejak zaman dahulu, ada kebiasaan merantau atau meninggalkan kampung halaman tradisi adat budaya. Banyak alasannya, mengapa seseorang atau satu keluarga merantau ke luar kampung halamannya. Ada masalah moralitas, ada kesulitan akses pekerjaan sebagai petani, ada program transmigrasi, ada juga yang diajak pihak luar untuk bekerja di kota, dan ada yang karena pergi bersekolah dan tidak mau kembali setelah sekolah di luar. Perantauan menjadi satu alternatif untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik di luar kampung.
Ketika ada kemudahan informasi dan transportasi, maka pilihan merantau ke kota dan daerah lain menjadi semakin biasa. Salah satu penyebab adalah semakin terbatasnya lahan di kampung adat budaya untuk dikelola. Sejak zaman lampau, ada sebuah fenomena yang melekat dengan perantauan.
Banyak masyarakat kampung yang merantau itu, umumnya tidak dibekali surat dan juga ketrampilan yang profesional. Sungguh bermodal hanya keberanian, semangat dan harapan untuk bisa kerja apa saja di lokasi perantauan. Ada keyakinan untuk hidup lebih baik dengan merantau ke kota atau wilayah pulau lain yang mempunyai peluang kerja.
Dari keadaan demikian, maka umumnya perantau dari kampung memang ulet dan pejuang sejati. Banyak yang bisa pulang mengunjungi kampung halaman, namun umumnya seperti gengsi untuk kembali ke kampung asal. Mereka terus bertahan dan beranak cucu di perantauan, dengan berbagai macam alasan.
Sering ada kasus soal kelengkapan surat identitas dan kemampuan profesi kerja. Namun, hingga kini, perantau dari kampung tradisi lebih memilih pergi merantau, hanya bermodal keberanian dan semangat nekad. Banyak juga kisah menarik dari daerah rantau maupun tempat transmigrasi. Bahwa semakin jauh di rantau, sering identitas adat budaya kampung semakin dirindukan serta diekspresikan. Salah satunya adalah soal berbusana, makanan kampung dan kesenian tradisi adat budaya.

