Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com l Dalam sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara, kampung tradisi di tanah air adalah basis bangunan NKRI. Semboyan yang dikenal adalah “bhineka tunggal Ika”. Rakyat bangsa ini berasal dari aneka suku bangsa dan tersebar di seluruh tanah air. Bukan saja beraneka ragam adat budayanya, namun juga bervariasi tingkat kesejahteraan sosial ekonominya, konteks alam lingkungannya, serta aksesnya terhadap proses pembangunan NKRI.
Dalam proses pembangunan NKRI, sejak merdeka hingga sekarang, ada dinamika sejarah dan fakta terjadi, dan selalu dikumandangkan bahwa “pembangunan untuk rakyat NKRI agar mencapai kesejahteraan dan mewujudkan cita-cita proklamasi”. Program pembangunan dan anggaran telah dilakukan, dan hasilnya sekarang dialami rakyat di seluruh pelosok negeri. Pimpinan dan pejabat negara silih berganti, strategi dan kebijakan terus berkembang, pembangunan terus berlangsung.
Sebagai rakyat yang lahir dan bertumbuh dari kampung, harus dikatakan bahwa sangat banyak hal patut disyukuri dalam perjalanan pembangunan bangsa NKRI untuk mewujudkan cita-cita proklamasi. Karena itu, tidak bijaksana membandingkan pengalaman pembangunan NKRI dengan fakta pengalaman negara lain di dunia.; entah yang masih berkembang atau yang dianggap modern dan maju. Sejarah dan konteks pembanguan NKRI adalah khas dan berbeda. Bukan saja ketika dibanding denga negara lain, tetapi dalam perbandingan antar komunitas dan wilayah di tanah air ini.
Terlahir dan besar dari kampung, saya berbangga dan memberi apresiasi atas kemajuan bangsa dan NKRI seperti hari ini. Bahwa ada banyak persoalan dalam tataran sistem dan kebijakan pembangunan, inilah dinamika perjuangan membangun NKRI yang luas wilayahnya dan besar jumlah penduduknya. Di lain pihak, kapasitas warga negara pun harus diakui bervariasi. Maka, sikap protes, selalu mengkrotik bahkan berontak mengutuk pemerintahan NKRI adalah pilihan yang kurang bijaksana.
Hemat saya, yang dibutuhkan demi kemajuan pembangunan yang lebih baik untuk segenap rakyat adalah dukungan doa, semangat patriotik, berpikir positif, bekerja keras untuk maju. Sedangkan untuk memperbaiki kesalahan dan mengatasi persoalan pembangunan, perlu kewarasan berpikir dan kematangan emosional untuk memberikan usul saran dan solusi. Bukan caci maki, membandingkan dan merusak capaian positif pembangunan yang sudah ada.

