Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Uang bagi masyarakat di komunitas adat budaya tradisi bukan hal baru. Modernisasi sudah memberi pengaruh perubahan dari sistem barter menuju pasar modern dengan uang. Apalagi untuk zaman digital sekarang ini, informasi makin mudah diakses, sehingga uang kian dikenal dalam kehidupan sehari-hari. Lembaga keuangan pun masuk kampung, seperti koperasi kredit, bank, rentenir, dan sekarang pinjaman online.
Masuknya berbagai lembaga keuangan dan derasnya informasi tentang uang, ternyata tidak serta merta membuat komunitas masyarakat adat tradisi pun spontan trampil mengelola keuangan pribadi, keluarga, maupun untuk usaha produktif. Yang paling terbiasa ialah pemakaian untuk kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak, dan keperluan sosial budaya. Cara berpikir, ketrampilan dan orientasi bisnis dalam mengelola uang masih berjalan sangat perlahan. Konteks tradisi sosial budaya masih sangat berpengaruh dalam mentalitas pribadi, meskipun sudah belajar di sekolah formal hingga perguruan tinggi.
Koperasi Kredit – CU, rentenir dan bank memang sudah dikenal masyarakat di komunitas Kampung. Namun, ketrampilan mengelola keuangan untuk usaha produktif masih sangat terbatas. Aktivitas menabung, pengiriman, dan pengambilan untuk keperluan konsumtif jauh lebih utama. Maka, lembaga keuangan ini belum signifikan mendorong pertumbuhan pendapatan ekonomi masyarakat tradisi di kampung. Maka, ketika adanya sistem pinjaman online dengan kemajuan teknologi digital, justru menjadi tantangan dan ancaman baru. Persoalannya adalah kapasitas individu dan pengaruh sosial budaya tradisi belum mendukung untuk usaha ekonomi produktif. Sebaliknya, cukup banyak kasus kredit macet, utang bertambah, penarikan kendaraan kredit, serta penyitaan agunan. Kemudahan akses informasi serta hadirnya lembaga keuangan, tidak serta merta diimbangi perubahan mentalitas berwira usaha dan kemampuan manajemen keuangan .
Bagi yang sudah memanfaatkan jasa keuangan yang tersedia, untuk UMKM, ternyata masih ada kendala lain. Ada persoalan kualitas produk dan pemasaran. Jadi, kendala internal maupun eksternal dialami komunitas kampung dalam pengembangan dan penguatan ekonomi keluarga.

