Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Di berbagai komunitas kampung adat budaya, umumnya berprofesi secara tradisi sebagai petani, nelayan, dan pedagang kecil. Ada juga yang berprofesi sebagai tukang kayu dan pengrajin gerabah.
Dengan berkembangnya pengaruh modernisasi, maka terlahir sejumlah profesi baru. Ada yang jadi aparatur desa, karyawan perusahaan, buruh pabrik, pedagang kelontong, sopir, tukang ojek, pemborong, pengusaha, PNS, dan politisi. Masuknya pendidikan formal membuat generasi muda bisa menekuni profesi baru. Ada yang ke luar komunitas dan merantau ke kota atau ke luar daerah untuk mendapatkan pekerjaan di bidang jasa modern.
Profesi tradisional, petani, nelayan, beternak atau tukang, kelihatan makin kurang diminati generasi muda. Banyak faktor yang mempengaruhi hal itu, di antaranya terbatasnya lahan, minat, cara pandang, orientasi hidup, dan ketrampilan generasi muda.
Perubahan zaman sangat mempengaruhi mentalitas dan pilihan profesi generasi muda. Di pihak lain, tawaran peluang kerja zaman now sangat terbuka, tapi dengan tuntutan โskillโ khusus, dan kompetitif. Ada juga peluang usaha mandiri bagi yang mau berwira swasta, sesuai dengan bakat, minat dan ketrampilan pribadi, serta ketersediaan modal.
Ada fenomena di kampung maupun juga di kota yang menarik ialah soal mentalitas generasi muda. Di kampung, meskipun profesinya baru, baik sebagai pengusaha kecil, karyawan swasta atau PNS, namun gaya hidup dan mentalitas masih didominasi tradisi. Misalnya, pejabat desa, menjalankan tugas pemerintahan, namun dengan tata cara kekeluargaan, khusunya dalam menerima tamu dari tingkat kecamatan atau kabupaten. Akibatnya, banyak anggaran yang dikeluarkan tidak sesuai peruntukan dana desa, demi hospitalitas. Padahal, ketika pejabat desa ke kantor di kecamatan atau kabupaten, berbeda perlakuan yakni formal dan dinas.
Hal yang sama, terjadi juga bagi yang berprofesi di bidang swasta, yakni soal manajemen keuangan usaha. Sering terkendala dengan tagihan tradisi sosial budaya, sehingga modal bisa habis karena “perasaan tidak enak” dalam menghadapi kebutuhan sosial budaya. Ini terjadi juga dengan mereka yang sudah di tempat perantauan. Pengaruh sosial budaya tradisi masih sangat dominan dalam perjuangan mengelola modal bisnis, baik UMKM, maupun usaha lainnya. Banyak modal usaha juga terkuras untuk keperluan konsumtif, sehingga profesi yang ditekuni mengalami kendala bahkan kegagalan.
Profesi baru di kampung bagi generasi muda, maupun mereka yang merantau ke luar kampung memiliki tantangan khusus. Selain ketrampilan dan manajemen modal usaha, ternyata ada banyak tagihan sosial budaya yang melekat dalam prinsip hidup, cara pandang, nilai dan orentasi dalam diri generasi muda pewaris adat budaya. Masuk dalam zaman digital milenial, perlu perjuangan ekstra untuk perubahan mentalitas, agar bisa melakukan kreasi, inovasi dan manajemen karakter pribadi.

