Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – KTT G20, baru selesai digelar di Pulau Dewata, Bali. Para pemimpin negara G20 hadir, tamu undangan dan semua tim pendukung datang dalam acara bergengsi itu. Indonesia sukses menjadi tuan rumah dan mengemban tugas presidensi 2022.
Saya sebut sebagai “Pertemuan Internasional Kampung”. Ada ribuan pribadi dari berbagai model Kampung lintas negara dan bangsa, datang di “Perkampungan Adat Orang Bali”.
Adat budaya orang Bali menghidupi komunitas kampungnya, Banjar dan Desa Pakraman atau desa adat. Identitas orang Bali tidak digerus zaman, tetapi mampu beradaptasi dan transformasi dalam dinamika sejarah peradaban.
Modernisasi IPTEK hingga zaman digital milenial tidak menghilangkan adat budaya orang Bali. Mereka mampu menghidupi warisan masa lalu, kekinian, dan menyongsong masa depan dengan identitas adat budayanya.
Pariwisata Bali, hemat saya, adalah bukti nyata kekuatan identitas adat budaya Bali. Justru kedatangan wisatawan dari seluruh dunia, karena ingin mengalami apa yang dihidupi komunitas adat di kampung pulau Dewata, Bali. Di sana ada relasi harmoni setiap pribadi dengan dirinya, dengan sesama, alam lingkungan, leluhur, penjaga alam semesta, para Dewata dan Sang Hyang Agung.
Pariwisata dibangun dan dijaga dengan ritual adat dan tata krama manusia Bali, dalam komunitas kampung adat budaya. Manusia dari berbagai kampung di dunia mau datang mencari dan mengalami “kekampungan” di pulau Dewata, karena di tempatnya sudah atau sedang hilang.
Masyarakat Bali menghidupi dan menjaga “kekampungannya”, karena diyakini dan dialami baik serta berguna bagi kehidupan pribadi dan komunitasnya.
Pertemuan KTT G20 menghasilkan sejumlah agenda kerja kongkret bagi kelangsungan hidup manusia di dunia, mulai dari negara masing-masing. Hemat saya, mereka semua belajar dari komunitas adat Bali.
Relasi harmonis damai antar pribadi, negara dan bangsa adalah kebutuhan mutlak demi kehidupan semua manusia sekarang dan ke depan.
Maka, harus bijaksana dan bertanggungjawab mengelola alam lingkungan, secara harmonis dan berkelanjutan.
Manusia tergantung mutlak dan membutuhkan alam semesta. Agama harus menjadi sumber solusi untuk harmoni damai, bukan sarana untuk konflik serta perang kepentingan selera individu dan kelompok.
Relasi kerjasama multi pihak harus saling menguntungkan dan menjamin harkat martabat kehidupan.
Kita adalah serpihan puing kampung masa lalu, yang sedang hidup di aneka model perkampungan hari ini, dan mempersiapkan kampung hari esok bagi anak cucu.
Manusia bertambah, alam lingkungan terbatas dan berkurang kualitasnya. Sudah ada yang berjuang membangun kampung baru di planet lain.
Bagaimana fakta kampung asal kita, yang menjadi identitas pribadi?

